Harianto Wijaya: Genius medan di belantara Jerman May 24, 2008
Posted by admin in : Indonesian, IT People, People Power , 2comments
Jarang-jarang ada pemuda punya segerobak prestasi, bahkan di Jerman pula. Pemuda itu adalah Harianto Wijaya, asal Medan, Sumatra Utara. Usia Ian demikian panggilannya baru 25 tahun. Namun sebentar lagi ia meraih gelar doktor informatika di Jerman. Bahkan, dua temuannya di bidang teknologi informatika telah dipatenkan di sana.
Sebelumnya pada juli 2000. Ian menjadi orang asing pertama yang memperoleh green card di negara diesel itu. Dengan izin khusus itu, ia boleh bekerja sekaligus membawa keluarganya bertempat tinggal di Jerman. Berbeda dengan green card versi Amerika Serikat, yang diberikan bagi semua lapisan, izin khusus di Jerman itu hanya dianugrahkan kepada orang asing yang punya skill tinggi di bidang hi-tech.
Karya pertama Ian yang dipatenkan itu dimilikinya bersama Pro. Dr. Ing. B. Walke, dosen pembimbingnya semasa kuliah di Rheinisch Westfalische Technische Hochschule (RWTH), Aachen. Temuannya merupakan terobosan baru di bidang wireless local area network. Dengan temuan itu, berbagai sistem komunikasi yang berbeda standar dapat dioperasikan pada frekuensi dan tempat yang sama, tanpa saling mengganggu. Temuan itu juga dilengkapi kemampuan Multi-Hop, yang menjadikan jangkauan pengiriman data yang lebih jauh.
Anne Ahira, Internet Marketer Kelas Dunia Asal Indonesia April 10, 2008
Posted by admin in : IT People, People Power , add a comment
Internet Marketer Kelas Dunia. Ini bukanlah gelar akademik, tapi merupakan pengakuan dari karya kerja keras seorang Anne Ahira. Mungkin anda tidak percaya dengan gelar yang disandangnya. Apalagi marketer dunia ini bukanlah orang yang berasal dari kawasan metropolitan. Ia lahir dan besar justru dari kawasan yang jauh dari gemerlap kotabesar, dari Banjaran – Bandung Selatan. Ijasah formal yang dimilikinya pun hanyalah dari Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Bandung jurusan Bahasa Inggris. Dari sosoknya yang energik dan khas remaja, anda tak akan menyangka kalau Ahira sangat disegani di kalangan marketer dunia dan menyandang predikat Top 10 Super Affiliate Kelas Dunia.
Di dunia Internet Marketing, Ahira telah mewujudkan mimpi-mimpinya semasa kecil. Berpenghasilan milyaran dengan tetap bekerja dari rumah sambil bercengkrama dengan keluarga. Menurut Ahira, kesuksesannya tidak diraih hanya dalam sekejap mata. Karena kesuksesan adalah suatu proses. Jika ingin sukses, kita harus memiliki visi dan tujuan yang jelas, serta meraihnya dengan kerja keras. “Saya menghabiskan sedikitnya 2 tahun dan biaya hingga ratusan juta untuk mendalami ilmu internet marketing, hingga akhirnya bisa mendirikan Asian Brain Internet Marketing Center sebagai tempat pembelajaran internet marketing khusus untuk orang Indonesia,” ujarnya. Dengan belajar di Asian Brain Internet Marketing Center kita pun tak perlu menghabiskan banyak waktu dan biaya seperti ketika Ahira pertama memulai bisnis ini.
Belajar pengalaman hidup dari Steve Jobs March 27, 2008
Posted by admin in : IT People, People Power , add a commentNasehat Steve Jobs: “*Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai*”
naskah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, di acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.
You Tube: http://www.youtube. com/watch? v=D1R-jKKp3NA
Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.
Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Mark Zuckerberg – Hacker. Dropout. CEO. Facebook March 7, 2008
Posted by admin in : IT People, People Power , 1 comment so farSumber : http://www.fastcompany.com/magazine/115/open_features-hacker-dropout-ceo.html
When Mark Zuckerberg showed up in Palo Alto three years ago, he had no car, no house, and no job. Today, he’s at the helm of a smokin’-hot social-networking site, Facebook, and turning down billion-dollar offers. Can this kid be for real?
“I’m just lucky to be alive.” Mark Zuckerberg, the 22-year-old founder and CEO of social-networking site Facebook, is talking about the time he came face-to-face with the barrel of a gun. It was the spring of 2005, and he was driving from Palo Alto to Berkeley.
Just a few hours earlier, he had signed documents that secured a heady $12.7 million in venture capital to finance his fledgling business. It was a coming-of-age moment, and he was on his way to celebrate with friends in the East Bay. But things turned weird when he pulled off the road for gas. As Zuckerberg got out of the car to fill the tank, a man appeared from the shadows, waving a gun and ranting. “He didn’t say what he wanted,” Zuckerberg says. “I figured he was on drugs.” Keeping his eyes down, Zuckerberg said nothing, got back into his car, and drove off, unscathed.


