Apakah anda workaholic? July 14, 2008
Posted by admin in : Article, Mentalitas, Studi Kasus , add a commentKalo kita mendengar istilah yang diakhiri dengan aholic, biasanya ini berhubungan dengan kecanduan atau ketagihan terhadap sesuatu. Namun jarang yang menggunakan istilah ini untuk kecanduan terhadap obat-obatan dan alkohol, sesuatu yang berkonotasi negatif. Ada padanan kata yang sering digunakan untuk digabungkan dengan kata aholic, yaitu workaholic.
Saya tidak tahu sejarah kata ini, karena saya coba cari di kamus tidak ketemu, namun di wikipedia disebutkan sebagai kecanduan untuk bekerja. Menarik bukan, biasanya orang malas untuk bekerja, tapi ini ada yang sampai kecanduan untuk bekerja.
Tentu sebuah fenomena yang aneh, karena normalnya orang lebih suka untuk bekerja secukupnya. Apakah ini berarti workaholic dapat disematkan kepada orang yang bekerja seharian penuh, seminggu penuh sehingga tidak ada istilah libur bagi dirinya? Ini berarti juga pegawai yang sering lembur termasuk workaholic juga? Menurut artikel di Wall Street, seseorang dikatakan terjangkit workaholic jika :
- Keasyikan dengan pekerjaannya : workaholicer cenderung susah untuk meninggalkan pekerjaan di rumah atau alasan sosial. Mereka berusaha menghindari cuti sakit dan liburan. Hal ini membahayakan kesehatan mereka. Jika mereka berlibur biasanya membawa pekerjaannya juga.
- Tidak nyaman untuk mendelegasikan pekerjaannya : kebanyakan mereka susah mendelegasikan pekerjaan mereka karena mereka ingin mengontrol pekerjaan tersebut.
- Mengabaikan aspek lain dalam kehidupannya : mereka lebih mengutamakan pekerjaan daripada keluarga dan kehidupan pribadinya. bahkan mereka tidak menghadiri pemakaman orang terdekatnya.
- Menggabungkan semua aspek kehidupannya dengan pekerjaannya : karena antara kesenangan dan pekerjaan bagi mereka tidak ada bedanya, jadi pekerjaan sudah memenuhi pikirannya. Dan cenderung pekerjaan menjadi hobinya.
- Menyembunyikan pekerjaannya : Seperti halnya kecanduan lainnya, iya akan berusaha menyembunyikan kecanduannya. Dengan perkembangan teknologi, sebuah perangkat elektronik dapat menyembunyikan arsip-arsipnya yang dahulu memenuhi lemari kerja nya.
Jadi dapat disimpulkan workaholic sebagai kecanduan untuk bekerja karena iya menyenangi pekerjaannya namun dalam taraf yang tidak wajar. Sehingga orang ini mengabaikan banyak aspek dalam kehidupannya. Mungkin bagi orang yang telah menemukan jalan usahanya, iya akan bertambah semangat dan semangat terus. Namun jangan lupa bahwa manusia memiliki sifat tamak yang akhirnya iya akan selalu berusaha untuk mencapai lebih dari yang sekarang. Sebaiknya berhati-hatilah jika Anda termasuk 5 kriteria tadi, karena pengabaian Anda terhadap aspek lain kehidupan Anda, akan merugikan orang di sekitar Anda.
Saya sertakan link yang berisi beberapa pengalaman untuk bisa keluar dari jerat workaholic, silahkan baca di sini
Dunia IT masih menjadi surga uang bagi beberapa orang June 30, 2008
Posted by admin in : Article, IT People, Mentalitas, Opini, People Power, Studi Kasus , add a commentDua hari ini saya memposting 2 artikel tentang orang-orang sukses di dunia IT. Pertama adalah tentang seorang bilioner dari Amerika yang menduduki peringkat orang ketiga terkaya di dunia, Bill Gates, Pemilik dan founder Microsoft. Yang kedua tentang seorang anak muda berusia 24 tahun yang sukses dengan facebook.com nya. Menempatkan dirinya menjadi remaja kaya raya di Amerika Serikat. Sesuatu yang tak ia duga sendiri.
Tak terduga juga saya akhirnya menggeluti dunia IT. Sebelumnya saya bercita-cita menjadi teknisi elektro, sehingga dari sejak SMP saya mendalami dunia elektronik. Ntah berapa banyak PCB yang saya buat, ntah berapa banyak komponen listrik yang sudah saya pasang di PCB, ntah berapa guru saya belajar, Toh akhirnya bukan itu jalan saya. Dimulai dari bandung saya berkenalan dengan dunia IT secara tak sengaja dari salah seorang mahasiswa ITB. Kemudian saya putuskan untuk mengambil jurusan TI di salah satu universitas di Jogjakarta, Kota Pelajar.
Selama kuliah saya mendalami dunia programming dan sudah mendapatkan hasil dengan membuka kursus private dan bimbingan skripsi. Dari sana saya tahu kalo dunia ini emang memberikan hasil. Saya memantapkan diri untuk selalu mengupdate ilmu pemrograman saya. Hampir semua bahasa pemrograman umum saya kuasai, PHP Delphi java atau Visual Basic sudah menjadi makanan sehari-hari saya.
Memahami Perang Tarif Operator Selular June 7, 2008
Posted by admin in : Article, Studi Kasus , 1 comment so farBagi masyarakat awam yang merasa dibuat bingung oleh gencarnya perang iklan yang dilancarkan oleh operator telepon selular, berikut kiat “membaca” iklan tarif telepon selular.
Tidak ada makan siang gratis (there is no such free lunch), maknanya untuk memperoleh sesuatu, termasuk layanan telekomunikasi, tidak ada yang gratisan, seberapa kecil angka rupiah yang ditawarkan, tetap saja pengguna harus membayar.
Yang ditagihkan kepada pengguna adalah durasi persambungan, bukan lamanya Anda bicara. Jadi, meskipun yang ditelepon, atau penelepon tidak berbicara, namun tagihan atau pengurangan deposit (bagi pengguna prepaid) akan berjalan terus sejak kedua telepon tersambung (connected).
Tagihan penggunaan telepon menggunakan dasar durasi, jarak, sifat sambungan dan jenis percakapan. Satuan waktu untuk mengukur durasi yang sekarang lazim digunakan adalah detik. Jarak dibagi menjadi dua: lokal dan jarak jauh (sambungan langsung jarak jauh /SLJJ). Sambungan lokal terjadi ketika nomor pemanggil dan yang dipanggil dua-duanya diterbitkan dari area (kota) yang sama dan ketika terjadi pemanggilan berada pada area yang sama pula.
Misalnya, A dan B adalah dua nomor yang diterbitkan di kota Jakarta, pada waktu terjadi persambungan, A dan B ada di kota Jakarta. Sambungan SLJJ terjadi ketika A (dari Jakarta) menelepon B yang sedang berada di kota lain, misalnya Denpasar.
(more…)
