
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mario Teguh - Tung Desem Waringin - Motivasi Audio Book - James Gwee - Artikel Motivasi - Kisah Orang Sukses &#187; Sharing</title>
	<atom:link href="http://www.jualanbuku.com/category/article/sharing/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jualanbuku.com</link>
	<description>Kumpulan artikel motivasi dan bisnis</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 02:20:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Krisis Ekonomi Amerika Serikat, Mengapa?</title>
		<link>http://www.jualanbuku.com/2008/09/30/krisis-ekonomi-amerika-serikat-mengapa/</link>
		<comments>http://www.jualanbuku.com/2008/09/30/krisis-ekonomi-amerika-serikat-mengapa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 01:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Kasus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jualanbuku.com/2008/09/30/krisis-ekonomi-amerika-serikat-mengapa/</guid>
		<description><![CDATA[Telah kita ketahui saat ini Amerika Serikat sedang berada di ambang kehancuran financial sebagai imbas dari krisis ekonomi. Trauma akan krisis ekonomi di tahun 1929 yang sering disebut Great Depression kembali menghantui. Pada saat itu dampak krisis itu menasional bagi rakyat Amerika Serikat, seperti kesulitan keuangan karena lapangan pekerjaan sedikit hingga kelaparan.
Seperti mengulang kejadian Great [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah kita ketahui saat ini Amerika Serikat sedang berada di ambang kehancuran financial sebagai imbas dari krisis ekonomi. Trauma akan krisis ekonomi di tahun 1929 yang sering disebut <a href="http://www.detikfinance.com/read/2008/09/25/143837/1012467/5/krisis-finansial-as-ingatkan-memori-buruk-great-depression" title="great depression" target="_blank">Great Depression</a> kembali menghantui. Pada saat itu dampak krisis itu menasional bagi rakyat Amerika Serikat, seperti kesulitan keuangan karena lapangan pekerjaan sedikit hingga kelaparan.</p>
<p>Seperti mengulang kejadian Great Depression, dimana saat ini banyak saham-saham yang menjadi maskot Wall Street berguguran. Apalagi perusahaan sekelas <a href="http://www.detikfinance.com/read/2008/09/25/171338/1012592/5/jejak-si-bangkrut-lehman-di-indonesia" title="jejak lehman" target="_blank">Lehman brothers</a> dan <a href="http://www.detikfinance.com/read/2008/09/28/101313/1013606/5/wamu-menyusul-lehman-brothers" title="wamu menyusul lehman brothers" target="_blank">Washington Mutual</a> menyatakan kebangkrutan. Belum lagi raksasa Asuransi AIG, sahamnya turun hingga 50 persen.</p>
<p><span id="more-113"></span>Efek dari krisis ekonomi dan finansial di USA telah merambat ke negara-negara di Asia dan Eropa. Banyak negara yang memberikan suntikan dana kepada lembaga keuangan supaya tidak tergerus arus krisis Ekonomi yang berasal dari Amerika Serikat.</p>
<p><strong>Mengapa Krisis Ekonomi melanda Amerika Serikat?</strong></p>
<p>Mungkin ini menjadi pertanyaan bagi sebagian besar orang, mengapa negara super power dan terkenal kuat finansialnya bisa mengalami krisis moneter atau ekonomi. Dan kemungkinan berada di ambang kebangkrutan yang akan menyengsarakan rakyatnya dan sebagian besar negara di dunia.</p>
<p>Ada sebuah penjelasan dari Bpk Dahlan Iskan, pada Jawa Pos tanggal 28 september 2008 yang isinya hampir sehalaman penuh. Saya berusaha untuk meringkas penjelasan tersebut untuk mendapatkan analisis beliau tentang mengapa krisis ekonomi bisa melanda negara sekelas Amerika Serikat. Berikut rangkumannya.</p>
<p>Sebuah perusahaan yang go public dituntut untuk meningkatkan laba hingga 20 persen tiap tahunnya. Tentang bagaimana caranya, CEO dan direktur yang akan mengaturnya. Pemilik perusahaan atau pemegang saham tidak mau tau yang penting harga saham naik dan laba terus meningkat.</p>
<p>Mengapa harga saham harus selalu naik, alasannya adalah jika saham dijual maka harga saham harus lebih tinggi dari harga saham saat membeli. Dan mengapa laba harus naik? alasannya jika saham tidak dijual maka setiap tahunnya mereka bisa mendapat pembagian laba atau deviden yang bertambah banyak.</p>
<p>Sehingga CEO selalu mencari cara untuk melakukan 2 hal di atas tadi. Alasannya agar tetap dapat mempertahankan jabatan dan gaji dan bonus yang selalu meningkat. CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali gaji Presiden Bush. Sehingga antara pemegang saham dan CEO menemukan sumbu temu untuk mendapatkan 2 hal di atas.</p>
<p>Berbagai cara dilakukan hingga melibatkan pelaku politik, banyak kebijakan yang memungkinkan perubahaan aturan dan undang-undang untuk memungkinkan segala cara para CEO tersebut. Bagi pelaku politik keuntungannya adalah mendapatkan dana kampanye dan dukungan.</p>
<p>Dengan cara ini ekonomi AS berkembang pesat, semua orang mampu membeli kebutuhan hidup. Sehingga AS memerlukan banyak barang. Jika tidak bisa dibuat di dalam negeri maka pesan dari negara lain. Maka tak heran China memiliki cadangan devisa terbesar yaitu 2 triliun USD karena memasok banyak barang ke AS.</p>
<p>Sudah 60 tahun AS membesarkan perusahaan seperti itu, yang merupakan bagian dari ekonomi kapitalis sehingga AS menjadi penguasa dunia. Tapi itu belum cukup, segala hal harus yang terbaik, terkomputerisasi, bonus yang sudah besar harus dibuat lebih besar lagi. Disinilah ketamakan AS terlihat.</p>
<p>Ketika semua orang sudah membeli rumah, seharusnya tidak ada lagi perusahaan penjual rumah bukan. Namun kenyataannya perusahaan harus meningkatkan penjualan untuk mendapatkan pertumbuhan laba. Maka dicarilah jalan agar rumah terjual lebih banyak. Jika orang sudah memiliki rumah maka diciptakan agar kucing dan anjing juga memiliki rumah. Termasuk mobil.</p>
<p>Namun ketika kucing dan anjing sudah memiliki rumah, siapa lagi yang harus membeli? Maka di tahun 1980, Pemerintah AS mengeluarkan keputusan &#8216;Deregulasi Kontrol Moneter&#8217;, intinya dalam kredit rumah, perusahaan real estate diperbolehkan menggunakan variable bunga. Artinya boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini merupakan peluang besar bagi perusahaan real estate, broker, asuransi dan keuangan.</p>
<p><strong>History Krisis Mortgage di AS</strong></p>
<p>Tahun 1925, AS memiliki UU Mortgage Tentang KPR, yaitu setiap orang yang memenuhi syarat berhak mengajukan  dan mendapatkan kredit rumah. Jika penghasilan setahun 100 juta maka ia berhak mengambil kredit mortgage 250 juta. Karena cicilan jangka panjang maka terasa ringan.</p>
<p>Tahun 1980, Keluar kebijakan untuk menaikan bunga. bisnis perumahan ada peluang, bank bisa mendapatkan bunga tambahan dan broker dan bisnis terkait bisa berusaha kembali.</p>
<p>Namun karena semua sudah punya rumah, maka Tahun 1986 pemerintah AS menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya, pembeli rumah diberi keringanan pajak. Bagi warga di negara maju, keringanan pajak akan mendapat sambutan luar biasa karena nilai pajak yang tinggi.</p>
<p>Tahun 1990, dengan fasilitas pajak bisnis rumah meningkat hingga 12 tahun ke depannya. Dari mortgage 150milyar USD dalam setahun menjadi 2 kali lipat di tahun-tahun berikutnya.</p>
<p>Tahun 2004, mortgage mencapai 700 milyar USD per tahun. Gairah bisnis rumah yang terus meningkat ini membuat para pelaku bisnis menghalalkan segala cara. Mulai dari iklan yang jor-joran, keluarnya lembaga investment bank, hingga melunaknya persyaratan KPR. Dalam pikiran pengembang, jika orang tidak bisa membayar kredit atau kredit macet, toh rumah masih bisa dijual karena perhitungannya tiap tahun harga rumah meningkat. Jadi mereka masih untung ketika terjadi kredit macet.</p>
<p>Namun ternyata dalam jangka kurang dari 10 tahun, banyak kredit Macet. Banyak orang menjual rumah, harga menjadi turun sehingga nilai jaminan rumah tidak cocok lagi dengan nilai pinjaman. Satu per satu lembaga investment banking bergururan seperti efek domino.</p>
<p>Berapa juta rumah yang termasuk mortgage? tidak ada data namun dari nilai uangnya sekitar 5 triliun USD. Jadi kalo George Bush meminta bantuan dana 700 milyar USD itu baru sebagian kecil. Kongres kawatir apakah harus menambah 700 milyar USD lagi jika yang pertama tidak berhasil.</p>
<p><strong>Penutup artikel krisis ekonomi di Amerika Serikat </strong></p>
<p>Kabar terakhir menyebutkan Kongres AS kemungkinan besar menyetujui <a href="http://www.detikfinance.com/read/2008/09/28/142432/1013716/4/kongres-as-sepakati-bailout-us$-700-miliar" title="kongres sepakati bailout" target="_blank">rencana bailout ini</a>. Walau masih belum terlihat dampaknya, namun mudah-mudahan dunia tidak terpuruk dalam krisis ekonomi berkepanjangan.</p>
<p>Penting bagi pemerintah Indonesia untuk memberikan informasi sebanyak mungkin untuk mencegah terjadinya rush besar-besaran terhadap bank-bank di Indonesia. Tentunya Krisis Ekonomi yang terjadi tahun 1997 tidak ingin kita ulangi lagi bukan.</p>
<p>Update : <a href="http://www.detikfinance.com/read/2008/09/30/112159/1014294/5/bailout-ditolak-wall-street-rontok" title="bailout ditolak wall street rontok" target="_blank">rencana bailout ditolak oleh kongres AS</a>. namun setelah melakukan pendekatan dan revisi draft bailout, <a href="http://www.detikfinance.com/read/2008/10/02/094257/1014870/5/senat-as-restui-rencana-bailout-us$-700-miliar" title="senat as menyetujui bailout" target="_blank">senat as menyetujui bailout tersebut</a>. kemudian DPR AS pun menyetujui dengan <a href="http://www.detikfinance.com/readfoto/2008/10/04/103111/1015287/461/1/bush-teken-uu-bailout" target="_blank">ditandatanganinya UU Bailout oleh presiden Bush</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jualanbuku.com/2008/09/30/krisis-ekonomi-amerika-serikat-mengapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Menulis Buku : Belum Pakar Maka Belum Menulis Buku?</title>
		<link>http://www.jualanbuku.com/2008/05/26/mari-menulis-buku-belum-pakar-maka-belum-menulis-buku/</link>
		<comments>http://www.jualanbuku.com/2008/05/26/mari-menulis-buku-belum-pakar-maka-belum-menulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 00:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jualanbuku.com/2008/05/26/mari-menulis-buku-belum-pakar-maka-belum-menulis-buku/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah sharing yang disampaikan sdr.  Dodi Mawardi
Seorang kawan mengeluhkan kondisi dirinya, ketika berdiskusi tentang menulis buku. Menurutnya, dia tidak akan mampu menulis sebuah buku karena dia belum menjadi pakar di bidang apapun. Ketika saya tanya bermacam kemampuannya, semua dijawab dengan kata ’rata-rata air’ sebagai gambaran kemampuannya yang pas-pasan. Sampai membicarakan minat/hobi sekalipun, dia tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sebuah sharing yang disampaikan sdr.  Dodi Mawardi</em></p>
<p>Seorang kawan mengeluhkan kondisi dirinya, ketika berdiskusi tentang menulis buku. Menurutnya, dia tidak akan mampu menulis sebuah buku karena dia belum menjadi pakar di bidang apapun. Ketika saya tanya bermacam kemampuannya, semua dijawab dengan kata ’rata-rata air’ sebagai gambaran kemampuannya yang pas-pasan. Sampai membicarakan minat/hobi sekalipun, dia tetap ’keukeuh’ semuanya tidak layak dibukukan karena dia tidak memiliki apapun yang istimewa.</p>
<p>”Ya sudah lah&#8230;”  jawab saya menyerah.</p>
<p>Saya katakan kepadanya, untuk menjadi seorang penulis tidak butuh KEPAKARAN. Anda seorang pakar atau bukan, tidak menjadi masalah. Yang dibutuhkan hanyalah penguasaan materi. Menguasai materi belum bisa masuk kategori pakar, karena yang menentukan kepakaran seseorang bukan kita sendiri melainkan pihak lain. Misalnya media massa atau kampus atau komunitas tertentu dan sebuah buku.</p>
<p><span id="more-59"></span> 	Dengan patokan seperti itu, maka setiap orang pasti menguasai sejumlah hal, mulai dari yang sepele sampai pada tingkat yang rumit. Seorang pemulung misalnya, pasti menguasai tehnik memulung terbaik yang mampu menghasilkan pemasukan terbesar buatnya. Dia tahu lokasi memulung potensial dia mengerti jenis barang yang harus dipulung, dan dia pun faham kapan waktu paling tepat untuk memulung. Dia menguasai semuanya, tapi tidak bisa disebut sebagai pakar bidang memulung.</p>
<p>Jika semua pengetahuannya tersebut dibagikan kepada orang lain dalam bentuk apapun termasuk buku, bisa<br />
jadi pemulung tersebut mendapat predikat baru – PAKAR MEMULUNG. Atau paling tidak, dia akan mendapatkan pengakuan sebagai pemulung yang TOP BGT.</p>
<p>Menulis Bukulah, Maka Anda akan Menjadi Pakar! Nah, jika Anda belum-belum sudah mencap diri tidak memiliki keistimewaan apapun, belum menjadi pakar dan lain sebagainya, sampai kapanpun tidak akan bisa menulis buku. Ubah paradigma tersebut dan yakin diri sendiri bahwa ”Saya punya sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain&#8230;” Sekarang belum jadi pakar, tapi nanti setelah menghasilkan buku – boleh berharap – ”Saya akan menjadi pakarnya!”</p>
<p>Banyak orang yang memulai kepakarannya atau makin kuat tingkat kepakarannya setelah menulis buku. Seorang Tung Desem, melonjak tingkat kepakarannya berkali-kali lipat, salah satunya karena buku ’Financial Revolution’. Seorang Safir Senduk diakui kepakarannya sebagai perencana keuangan keluarga (padahal tidak punya sertifikat perencana keuangan<br />
apapun), karena menulis buku disamping menulis di media massa. Padahal, sebelum menulis buku (dan muncul di media massa) dia bukan siapa-siapa.</p>
<p>Jadi, sekali lagi balik paradigmanya, kalau sekarang belum merasa menjadi pakar, menulis bukulah! Lalu siap-siaplah mengambil ’gelar’ pakar itu.</p>
<p><strong> Banyak Penulis yang Bukan Pakar!</strong><br />
Rekan saya Faif Yusuf bukanlah seorang pakar. Dia seusia saya atau malah lebih muda. Baru beberapa tahun<br />
menekuni dunia entrepreneurship. Secara ’definisi’, mas Faif belum bisa dianggap pakar di bidang entrepreneur. Tapi dengan keluarnya buku ”Rahasia jadi Entrepreneur Muda” yang berisi kumpulan kisah para pengusaha muda yang mampu mengarungi dunia usaha dengan ’baik’, mas Faif mulai mendapatkan gelar pakar. Pakar entrepreneur khusus untuk anak muda. Apalagi jika keluar lagi buku kedua, yang kain memerkuat buku pertama.</p>
<p>Atau rekan saya yang lain, Masbukhin Pradana. Dia belum pakar ketika menulis buku ”Cara Briliant Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran”. Tapi setelah buku itu dipasarkan dan mendapatkan respon sangat positif dari masyarakat, Masbukhin mendapatkan predikat baru ’pakar usaha sampingan’. Sering sekali pria 30-an tahun tersebut mendapatkan undangan dari serikat pekerja untuk membagi kepakarannya.</p>
<p>Satu penulis lain yang selalu saya jadikan contoh adalah Raditya Dika. Anak muda ini bukan pakar, bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Tapi, mampu menulis buku tentang DIRINYA SENDIRI. Cerita-cerita unik tentang dirinya sendiri itu, ditulisnya di blog lalu naik pangkat menjadi buku. Maka mengalirlah naskah-naskah tentang dirinya sendiri tersebut dalam beberapa buku, mulai dari kisahnya kuliah di Australia, kisah cintanya yang tidak pernah sukses, sampai pengalaman-pengalam an aneh dalam hidupnya. Dan luar biasa, karena semua bukunya laris manis seperti ’Kambing Jantan’ dan ’Radikus Makan Kakus’. Radith memberikan pelajar berharga, bahwa diri kita masing-masing punya keistimewaan. Sayang, kita sering tidak menyadarinya.</p>
<p>Jadi&#8230; untuk menulis buku tidak perlu menjadi PAKAR dulu.</p>
<p><strong> Banyak Pakar yang Tidak Menulis Buku!</strong><br />
Sebaliknya, silahkan Anda hitung sendiri berapa banyak pakar atau yang dianggap pakar, yang BELUM menulis buku. Banyak bukan? Paradigma, baru menulis setelah menjadi pakar kembali mentah, karena faktanya banyak orang yang sudah menjadi pakar justru BELUM (mampu atau mau) menulis buku.</p>
<p>Mentor saya Andrias Harefa pernah bertemu dengan seorang pakar, yang sampai detik ketika bertemu dengannya, belum juga menulis buku. Setiap kali ditanyakan, selalu saja ada jawaban yang mementahkan penulisan buku. Akhirnya, Harefa mengatakan sebuah kalimat yang – menurut saya – sangat tajam. Kira-kira bunyinya, ”Apakah bapak tidak merasa berdosa karena ilmu yang bapak kuasai, tidak disebarkan kepada orang lain, kepada generasi mendatang?”</p>
<p>Kesimpulannya: Tidak ada alasan untuk tidak menulis buku. Yang belum pakar, pasti bisa menulis buku. Yang sudah menjadi pakar, justru HARUS menulis buku.</p>
<p>Selamat menulis buku!</p>
<p>Dodi Mawardi<br />
Mentor Profec’s Author Community</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jualanbuku.com/2008/05/26/mari-menulis-buku-belum-pakar-maka-belum-menulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman bergelut di dunia forex</title>
		<link>http://www.jualanbuku.com/2008/05/22/pengalaman-bergelut-di-dunia-valas/</link>
		<comments>http://www.jualanbuku.com/2008/05/22/pengalaman-bergelut-di-dunia-valas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 00:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing]]></category>
		<category><![CDATA[Trading Forex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jualanbuku.com/2008/05/22/pengalaman-bergelut-di-dunia-valas/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah sharing yang disampaikan di sebuah milis bisnis, mungkin bisa dipakai acuan jika ingin memulai bermain forex. Karena dunia forex emang benar-benar liquid dan berbahaya buat pemula yang hanya memikirkan hasil yang besar. berikut pendapatnya :
Sudah 3 tahun main forex baik di Indonesia maupun di luar negri. Sebenarnya bermain forex bisa untung kalo tau caranya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sebuah sharing yang disampaikan di sebuah milis bisnis</em>, mungkin bisa dipakai acuan jika ingin memulai bermain forex. Karena dunia forex emang benar-benar liquid dan berbahaya buat pemula yang hanya memikirkan hasil yang besar. berikut pendapatnya :</p>
<p>Sudah 3 tahun main forex baik di Indonesia maupun di luar negri. Sebenarnya bermain forex bisa untung kalo tau caranya. Bisa rugi besar bahkan bangkrut total jika tidak tau caranya atau hanya main feeling.</p>
<p>Ada beberapa alasan mengapa memilih broker luar negeri:</p>
<ol>
<li>Di broker Indonesia jumlah minimal (sesuai aturan Babepti) min USD 5000, di broker luar negeri (yang terpercaya) min USD 100, bahkan ada yg bisa hanya USD 1 (Marketiva).</li>
<li>Di broker Indonesia ada potongan komisi, di broker luar negeri ( yg terpercaya) tdk ada.</li>
<li>Di broker Indonesia spread paling rendah 3 pips (broker baru), umumnya 6 pips. Di broker LN (yg terpercaya) mulai 2 pips.</li>
<li>Di broker Indonesia kurang aman karena mental beberapa orang Indonesia adalah &#8220;maling&#8221; alias koruptor.</li>
<li>Di broker Indonesia yg menuruti aturan babepti ada bunga overnight. Di broker LN bisa tdk ada (request khusus).</li>
</ol>
<p>Contoh broker LN yg terpercaya: FXDD, FXCM, Marketiva, North Finance (yg ini ada cabangnya di Indonesia), Interbank, dan FX Open (yg ini jg ada cabangnya di Indonesia).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jualanbuku.com/2008/05/22/pengalaman-bergelut-di-dunia-valas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih Lingkungan Anda Untuk Sukses</title>
		<link>http://www.jualanbuku.com/2008/05/16/pilih-lingkungan-anda-untuk-sukses/</link>
		<comments>http://www.jualanbuku.com/2008/05/16/pilih-lingkungan-anda-untuk-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 02:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jualanbuku.com/2008/05/16/pilih-lingkungan-anda-untuk-sukses/</guid>
		<description><![CDATA[Diposting oleh akaruna@ptmorich.com, Penulis asli tidak tahu
Keadaan sekeliling dan lingkungan kita dapat mempengaruhi kita. Keadaan jiwa juga dapat mempengaruhi kita. Keadaan suasana hati dapat pula mempengaruhi kita. Mempengaruhi untuk bersikap dan melakukan sesuatu tindakan.
Pada bulan puasa beberapa waktu lalu, saya diberitahu tentang banyaknya pengemis yang dapat penghasilan 1-2 juta per hari. Ibu-ibu tua, bahkan anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Diposting oleh akaruna@ptmorich.com, Penulis asli tidak tahu</em></p>
<p>Keadaan sekeliling dan lingkungan kita dapat mempengaruhi kita. Keadaan jiwa juga dapat mempengaruhi kita. Keadaan suasana hati dapat pula mempengaruhi kita. Mempengaruhi untuk bersikap dan melakukan sesuatu tindakan.</p>
<p>Pada bulan puasa beberapa waktu lalu, saya diberitahu tentang banyaknya pengemis yang dapat penghasilan 1-2 juta per hari. Ibu-ibu tua, bahkan anak-anak di pinggir jalan tiba-tiba penghasilannya meningkat di bulan Ramadhan dan puncaknya pas lebaran. Karena hal ini pula seringkali mereka khusus datang dari desa ke kota hanya untuk mengemis.</p>
<p>Namun mengapa orang-orang begitu baik hati untuk beramal ? Kenapa mereka beramal sedemikian banyak pada waktu itu ? Semua karena hatinya yang menjadi khusyuk sewaktu menjalankan ibadah di bulan yang suci itu. Mereka begitu bersemangat menjalankan semua ibadah yang bisa dilakukan, termasuk banyak beramal.</p>
<p><span id="more-52"></span>Orang Amerika yang sering pergi ke Las Vegas, tahu-tahu ada kabar menikah di sana. Mendadak saja keinginan menikah mereka timbul. Hal ini dikarenakan suasana kota Las Vegas yang sering kali menikahkan dengan persyaratan dan tata cara yang begitu mudah. Katanya satu gereja sehari bisa menikahkan sampai 30 pasangan. Sampai antri segala.</p>
<p>Saya sering tanya ke teman-teman yang sering bepergian ke Singapura, bKalau kamu ke Singapura, apakah kamu akan membuang sampah sembarangan ?b bTidak,b jawab mereka. bLalu kenapa kalau di Indonesia masih membuang sampah sembarangan ?b. bYa, karena di sini semua begitu.b</p>
<p>Apakah mereka tidak bisa disiplin ? Apakah mereka tidak bisa diajarkan yang seharusnya ? Bisa. Bahkan tidak usah diajarkan, suruh saja mereka ke Singapura. Begitu sampai di sana mereka sudah tidak mau membuang sampah sembarangan. Kenapa di Indonesia mereka melakukannya ? Karena mereka mengganggap di Indonesia sah-sah saja untuk melakukan seperti itu. Tidak apa-apa, tak ada tindakan. Beda dengan di Singapura yang bisa didenda sampai ratusan ribu rupiah.</p>
<p>Saya punya teman yang sangat pelit. Dia bahkan di awal-awal tinggal di Amerika tidak mau memberi tip, uang terima kasih untuk karyawan restoran. Namun setelah tinggal di sana selama 3-4 bulan, dia terbiasa untuk memberi tip 15% dari total pengeluaran, minimal 10%. Kok berubah ? bSaya bisa celaka kalau tidak memberi tip. Bisa dipanggil untuk dimintai,b jawabnya.</p>
<p>Ternyata orang yang pelit yang biasanya tidak memberi tip, sampai di tempat dimana semua orang memberi tip, dia juga turut melakukannya. Hal ini karena lingkungan sekitarnya melakukan itu sehingga mempengaruhinya.</p>
<p>Suasana hati seperti bulan puasa, lingkungan seperti di Singapura, nilai-nilai budaya seperti di Amerika mau tidak mau mempengaruhi kita. Yang pelit menjadi beramal. Yang biasa tidak berderma menjadi berderma. Yang tidak disiplin menjadi disiplin.</p>
<p>Nah, demikian juga sukses. Sukses juga akan dipengaruhi oleh lingkungan, orang-orang sekeliling kita dan nilai-nilai buadaya yang dianut. Karenanya kita juga harus mencari lingkungan, orang-orang yang mempunyai nilai-nilai yang sukses. Karena hal ini akan mempengaruhi kita menjadi sukses pula.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jualanbuku.com/2008/05/16/pilih-lingkungan-anda-untuk-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.233 seconds -->
