Dunia IT masih menjadi surga uang bagi beberapa orang June 30, 2008
Posted by admin in : Article, IT People, Mentalitas, Opini, People Power, Studi Kasus , add a commentDua hari ini saya memposting 2 artikel tentang orang-orang sukses di dunia IT. Pertama adalah tentang seorang bilioner dari Amerika yang menduduki peringkat orang ketiga terkaya di dunia, Bill Gates, Pemilik dan founder Microsoft. Yang kedua tentang seorang anak muda berusia 24 tahun yang sukses dengan facebook.com nya. Menempatkan dirinya menjadi remaja kaya raya di Amerika Serikat. Sesuatu yang tak ia duga sendiri.
Tak terduga juga saya akhirnya menggeluti dunia IT. Sebelumnya saya bercita-cita menjadi teknisi elektro, sehingga dari sejak SMP saya mendalami dunia elektronik. Ntah berapa banyak PCB yang saya buat, ntah berapa banyak komponen listrik yang sudah saya pasang di PCB, ntah berapa guru saya belajar, Toh akhirnya bukan itu jalan saya. Dimulai dari bandung saya berkenalan dengan dunia IT secara tak sengaja dari salah seorang mahasiswa ITB. Kemudian saya putuskan untuk mengambil jurusan TI di salah satu universitas di Jogjakarta, Kota Pelajar.
Selama kuliah saya mendalami dunia programming dan sudah mendapatkan hasil dengan membuka kursus private dan bimbingan skripsi. Dari sana saya tahu kalo dunia ini emang memberikan hasil. Saya memantapkan diri untuk selalu mengupdate ilmu pemrograman saya. Hampir semua bahasa pemrograman umum saya kuasai, PHP Delphi java atau Visual Basic sudah menjadi makanan sehari-hari saya.
Ada apa dengan BBM May 23, 2008
Posted by admin in : Article, Opini , add a commentSebuah pendapat yang menarik yang disampaikan oleh sdr. Goenardjoadi Goenawan
Saat ini marak demo anti kenaikan BBM. Di beberapa daerah malah ibu-ibu rumah tangga ikut teriak mengeluh kesah mohon agar BBM idak naik, dan pemerintah lebih memperdulikan rakyat kecil.
Namun kelihatannya rencana kenaikan harga BBM dalam satu dua hari ini tidak dapat dicegah. Seperti menunggu palu godam, kepala rakyat kecil sudah terpekik oleh jeritan penderitaan, dan harus menerima pukulan terakhir.
Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Brazil, atau Argentina, kelihatannya disana kondisi sungguh rawan. Sedikit saja terjadi inflasi, atau devaluasi hanya 20% rakyat sudah bakar segala macam minimarket. Sedangkan di Indonesia, kenaikan BBM Oktober 2005 sampai 2 kali lipat masih belum membuat rakyat bergerak.
Mengapa?
Terjajah ExxonMobil di Blok Cepu - Kwik Kian Gie May 16, 2008
Posted by admin in : Article, Opini , 1 comment so farDitulis oleh Kwik Kian Gie
Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi - apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule.
Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusaha an asing.
Mengapa uang semakin susah dicari May 15, 2008
Posted by admin in : Article, Opini , add a commentDitulis oleh Goenardjoadi Goenawan
Dulu sekitar tahun 1991 ketika menghadiri sebuah acara pembukaan Hero Supermarket saya mendengar pidato Muhamad Saleh Kurnia pendiri Hero mengatakan bahwa dirinya membesarkan Hero, dengan menambah banyak cabang, tujuannya bukan profit. Paling tidak tujuan prioritas pertama di benaknya bukan itu. Lalu apa? Jawabnya: tujuannya adalah untuk menciptakan lapangan kerja. Dia sungguh ingin supaya paling tidak Karyawan Hero bisa menghidupi keluarganya masing-masing.
Setelah berjalan 17 tahun kemudian saya sudah lupa dengan perkataan Pak MS Kurnia tersebut. Lagipula apa benar bahwa pemilik sebuah bisnis lebih memikirkan nafkah penghidupan karyawannya? Apa benar begitu? Saya masih sangsi.
Lalu setelah berjalan 17 tahun saat ini kondisi ekonomi benar-benar terpuruk. Begitu banyak PHK, pabrik tutup, pengusaha banyak yang memilih pensiun. Akibatnya, begitu banyak pengangguran, pengurangan karyawan berlaku selama ini. Kalau dulu menjadi pengangguran adalah momok rasa malu, maka sekarang menjadi pengangguran sudah menjadi profesi wajar. Setiap keluarga beranak empat, maka yang dua bekerja dan dua lainnya mengantar jemput. Ini banyak merata terjadi di kota-kota besar.
Mengapa ini bisa terjadi?
