
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mario Teguh - Tung Desem Waringin - Motivasi Audio Book - James Gwee - Artikel Motivasi - Kisah Orang Sukses &#187; Belajar dari kegagalan</title>
	<atom:link href="http://www.jualanbuku.com/category/article/belajar-dari-kegagalan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jualanbuku.com</link>
	<description>Kumpulan artikel motivasi dan bisnis</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 02:20:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Secuil kisah tentang awal berdirinya Facebook</title>
		<link>http://www.jualanbuku.com/2008/06/30/secuil-kisah-tentang-awal-berdirinya-facebook/</link>
		<comments>http://www.jualanbuku.com/2008/06/30/secuil-kisah-tentang-awal-berdirinya-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 00:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar dari kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[IT People]]></category>
		<category><![CDATA[Mentalitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran hidup]]></category>
		<category><![CDATA[People Power]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jualanbuku.com/2008/06/30/secuil-kisah-tentang-awal-berdirinya-facebook/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel menarik dapet dari forum. Bagus buat pertimbangan yang baru diputus cewe atau cowo, atau ada masalah lain. Supaya tidak mengambil jalan singkat
Joko (bukan nama sebenarnya) ditemukan tergantung kaku di kamar tidurnya. Sang Ibulah yang pertama sekali menemukannya karena curiga sepanjang hari Joko tidak keluar dari kamarnya. Tidak ada tanda-tanda keanehan dalam diri anaknya menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Artikel menarik dapet dari forum. Bagus buat pertimbangan yang baru diputus cewe atau cowo, atau ada masalah lain. Supaya tidak mengambil jalan singkat</em></p>
<p>Joko (bukan nama sebenarnya) ditemukan tergantung kaku di kamar tidurnya. Sang Ibulah yang pertama sekali menemukannya karena curiga sepanjang hari Joko tidak keluar dari kamarnya. Tidak ada tanda-tanda keanehan dalam diri anaknya menurut Sang Ibu. Hanya memang sudah sejak sebulan terakhir Joko sering kepergok lagi murung dan kadang menangis. Sang Ibu tidak menyangka Joko sampai senekat itu mengakhiri hidupnya hanya karena diputus oleh sang kekasih yang akan segera menikah dengan calon pilihan orangtuanya.</p>
<p>Sementara, di tempat lain ada seorang pemuda lagi yang mengalami penolakan dari gadis idamannya. Daripada membiarkan dirinya dicabik-cabik oleh perasaannya, maka ia kemudian melakukan aksi sakit hatinya dengan membuat sebuah situs dengan nama facemash.com alias si wajah perkedel.</p>
<p><span id="more-82"></span>Demi mendapatkan foto teman-temannya, khususnya yang cewek. Ia nekat menerobos sistem komputer kampusnya. Lalu hasil perburuannya tersebut diunggah ke dalam situs barunya. Kemudian ia memasang sistem yang membuat setiap pengunjung facemash.com agar dapat memberi peringkat pada setiap cewek.</p>
<p>Akibat perbuatannya, pemuda ini dihukum oleh pihak kampus. Tapi usahanya tidak sia-sia. Popularitas facemash.com langsung melonjak, hanya dalam waktu tiga minggu pertama jumlah mahasiswa yang mendaftar sudah mencapai 4.000 orang. Anda tentu sudah dapat menduga, inilah cikal bakal dari Facebook.com yang kini anggotanya sudah mencapai 116,4 juta orang.</p>
<p>Siapakah pemuda itu? Dialah Zuckerberg yang waktu itu ada di semester II di Harvard. Aksi membalas sakit hati pada gadis yang menolaknya malah memjadikannya seorang triliuner termuda di dunia dengan kekayaan US$1,5 miliar di usianya kini 24 tahun.</p>
<p>Dua kisah di atas memiliki persamaan yaitu pemuda yang sakit hati karena cintanya ditolak. Perbedaan dari kedua kisah di atas adalah yang satu membiarkan pikirannya dikuasai perasaan, sedangkan satunya lagi segera melepaskan belenggu perasaan pada pikirannya.Seringka li seseorang menjadi sakit dan menderita karena membiarkan perasaannya menguasai pikirannya. Tidaklah mengherankan karena pada dasarnya manusia adalah mahluk kinestetik. Salah satu cara agar sembuh dari permasalahan adalah dengan membebaskan pikiran dari perasaan yang membelenggunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jualanbuku.com/2008/06/30/secuil-kisah-tentang-awal-berdirinya-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Self Efficacy &#8211; Mereka tidak menyerah</title>
		<link>http://www.jualanbuku.com/2008/06/01/self-efficacy-mereka-tidak-menyerah/</link>
		<comments>http://www.jualanbuku.com/2008/06/01/self-efficacy-mereka-tidak-menyerah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 00:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar dari kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[Mentalitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jualanbuku.com/2008/06/01/self-efficacy-mereka-tidak-menyerah/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis Ikhwan Sopa 
Berikut ini adalah sebagian inspirasi dari &#8220;Self Efficacy&#8221;-nya Dr. Albert Bandura, sebagiannya lagi dari memungut di sana dan di sini. Semoga bermanfaat.
Abraham Lincoln berangkat ke medan perang sebagai kapten dan kembali sebagai prajurit. Kemudian, dia gagal sebagai pebisnis. Sebagai ahli hukum di Springfield, dia sangat tidak praktis dan temperamental untuk sukses. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Penulis Ikhwan Sopa </em></p>
<p>Berikut ini adalah sebagian inspirasi dari &#8220;Self Efficacy&#8221;-nya Dr. Albert Bandura, sebagiannya lagi dari memungut di sana dan di sini. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Abraham Lincoln</strong> berangkat ke medan perang sebagai kapten dan kembali sebagai prajurit. Kemudian, dia gagal sebagai pebisnis. Sebagai ahli hukum di Springfield, dia sangat tidak praktis dan temperamental untuk sukses. Dia beralih ke dunia politik dan kalah pada usaha pertamanya untuk menjadi anggota legislatif, kemudian kalah lagi dalam nominasi menjadi anggota konggres, kemudian gagal menjadi komisioner di General Land Office, kalah lagi dalam pemilihan senator tahun 1854, kalah lagi dalam pemilihan Wakil Presiden tahun 1856, dan kalah lagi dalam pemilihan senat 1858. Dia menulis kepada seorang temannya, &#8220;<em>Saya sekarang adalah manusia hidup yang paling menderita. Jika apa yang saya rasakan dibagi rata kepada semua umat manusia, maka tak ada wajah yang ceria di muka bumi ini</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Winston Churcill</strong> harus mengulang di sekolah dasar, dan saat ia memasuki sekolah berikutnya, Harrow, ia ditempatkan di bagian terendah di kelas terendah. Selanjutnya, ia gagal dua kali dalam ujian masuk Royal Military Academy at Sandhurst. Ia kalah dalam pemilihan anggota parlemen. Ia menjadi perdana menteri di usia 62 tahun. Ia kemudian menulis, &#8220;<em>Never give in, never give in, never, never, never, never &#8211; in nothing, great or small, large or petty &#8211; never give in except to convictions of honor and good sense. Never, Never, Never, Never give up</em>.&#8221;<br />
<span id="more-65"></span><br />
<strong>Socrates</strong>, dijuluki sebagai &#8220;koruptor kaum muda yang amoral&#8221; karena ajarannya. Ia meneruskan korupsinya, bahkan setelah dijatuhi hukuman mati. Ia mati minum racun dan tetap dalam keadaan korupsi.</p>
<p><strong>Sigmund Freud</strong> menuai &#8220;Huuu&#8230;!&#8221; yang meriah saat pertama kali mempresentasikan idenya di hadapan masyarakat ilmiah Eropa. Ia kembali ke kantornya dan tetap menulis.</p>
<p>Guru-guru <strong>Thomas Alva Edison</strong> berkata, &#8220;<em>dia terlalu tolol untuk belajar apapun</em>.&#8221; Dia dipecat dari pekerjaan pertamanya karena &#8220;tidak produktif&#8221;. Sebagai penemu, Edison membuat 1.000 percobaan yang gagal sebelum menemukan bola lampu. Saat seorang wartawan bertanya kepadanya, &#8220;<em>Apa rasanya gagal seribu kali?</em>&#8221; Edison menjawab, &#8220;<em>Saya nggak gagal seribu kali. Bola lampu ditemukan dengan seribu langkah</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Albert Einstein</strong> tidak bisa bicara sampai berusia 4 tahun dan tidak bisa membaca sampai usia 7 tahun. Orangtuanya beranggapan bahwa dia abnormal. Salah satu gurunya mendeskripsikan Einstein dengan, &#8220;<em>mentalnya terlalu lemot, tidak sosial, dan terus bertualang dalam impian bodoh</em>.&#8221; Dia dikeluarkan dari sekolah dan ditolak masuk ke sekolah politeknik Zurich. Einstein sangat sedikit belajar bicara dan menulis. Ia bahkan sedikit sekali belajar matematika.</p>
<p><strong>Louis Pasteur</strong> hanyalah murid rata-rata di sekolahnya. Ia ranking 15 dari 22 di kelas kimia.</p>
<p>Setelah audisi pertamanya, <strong>Sidney Poitier</strong> dinasehati oleh direktur casting, &#8220;<em>mengapa kamu tidak berhenti menghamburkan waktu orang lain dan pergilah keluar sana jadi tukang cuci piring atau apalah gitu?</em>&#8221; Saat itulah, ia memutuskan untuk membaktikan dirinya dalam dunia akting.</p>
<p><strong>Henry Ford</strong> gagal dan bangkrut lima kali sebelum dia sukses dengan mobilnya.</p>
<p><strong>Stan Smith</strong> ditolak menjadi ball boy untuk Davis Cup karena &#8220;terlalu aneh dan kikuk.&#8221; Dia tetap aneh dan kikuk, dan memenangkan Wimbledon dan US Open. Dan, delapan piala Davis.</p>
<p><strong>RH Macy</strong> gagal dan bangkrut tujuh kali sebelum tokonya merajalela di New York.</p>
<p>Saat Bell Telephone Company jungkir balik di masa-masa awalnya, pemiliknya <strong>Alexander Graham Bell</strong> menawarkan seluruh haknya ke Western Union seharga 100,000 USD. Penawaran itu ditolak dengan balasan, &#8220;<em>apa manfaatnya mainan elektronik yang ditawarkan perusahaan ini</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Michael Jordan</strong> berkata, &#8220;<em>Sepanjang karir Saya, Saya gagal 900 kali melempar bola. Saya kalah di hampir 300 pertandingan. 26 kali Saya dipercaya untuk melakukan lemparan kemenangan, dan gagal. Saya gagal dan gagal lagi di sepanjang hidup Saya. Itulah sebabnya Saya sukses</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Walt Disney</strong> dipecat dari jabatannya sebagai editor di sebuah koran, sebab dianggap &#8220;tidak punya imajinasi dan tak punya ide bagus.&#8221; Dia bangkrut beberapa kali sebelum membangun Disneyland. Faktanya, taman bermain itu ditolak oleh kota Anaheim dengan alasan hanya akan mengundang manusia sampah dan gelandangan.</p>
<p>Saat pertama kali <strong>Jerry Seinfeld</strong> manggung sebagai pelawak profesional, dia melihat audience, terdiam kaku, dan lupa bahasa Inggris. Dia mencoba berjuang sekitar satu setengah menit sebelum didepak dari panggung. Dia kembali lagi malam berikutnya, dan menutup aksinya dengan applause yang sangat meriah.</p>
<p>18 penerbit menolak menerbitkan buku <strong>Richard Bach</strong>. Macmillan akhirnya menerbitkan &#8220;Jonathan Livingston Seagull&#8221; di tahun 1970. Tahun 1975, 7 juta kopi buku itu beredar, hanya di Amerika saja.</p>
<p>Setelah peran pertamanya sebagai bellboy di film &#8220;Dead Heat on Merry-Go-Round&#8221;, <strong>Harrison Ford</strong> dipanggil wakil presiden studio film ke kantornya. &#8220;<em>Duduklah nak,</em>&#8221; ia berkata. &#8220;<em>Saya akan bercerita. Saat pertama kali Tony Curtis tampil dalam film, perannya hanyalah mengantarkan sebuah kantong belanja. Kami melihatnya dan kami langsung tahu bahwa ia adalah bintang besar.</em>&#8221; Ford membalas, &#8220;<em>Saya kira Bapak melihatnya sebagai kurir kantong belanja</em>.&#8221; Tuan wakil presiden berdiri dan berkata, &#8220;<em>Kamu nggak ngerti juga ya, kamu nggak ngerti juga&#8230; sekarang minggat deh dari sini!</em>&#8221;</p>
<p>Kepala sekolah <strong>Michael Cain</strong> berkata padanya, &#8220;Kamu bakal jadi pekerja di sepanjang hidup kamu.&#8221; Michael Cain mempekerjakan dirinya dan mendapatkan dua Academy Award.</p>
<p><strong>Charlie Chaplin</strong> awalnya ditolak oleh berbagai studio di Hollywood sebab pantomimnya dianggap &#8220;nonsense&#8221;.</p>
<p>Di SMU, <strong>Robin Williams</strong> terpilih sebagai &#8220;Yang Paling Kecil Kemungkinan Suksesnya&#8221;.</p>
<p>Decca Records membatalkan kontrak rekaman <strong>The Beatles</strong> dengan alasan, &#8220;<em>Kami tidak suka suara mereka. Grup band dengan gitar bakal segera punah</em>.&#8221; Setelah itu, Columbia Records juga mendepak mereka.</p>
<p>Tahun 1954, Jimmy Denny, manajer Grand Ole Opry, memecat <strong>Elvis Presley</strong> setelah satu kali manggung. Mereka bilang ke Elvis, &#8220;<em>Kamu nggak bakal kemana-mana, nak. Sebaiknya kamu kembali menjadi supir truk saja</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Beethoven</strong> biasa memegang biola dengan cara yang aneh dan lebih memilih memainkan karyanya sendiri ketimbang memperbaiki tekniknya. Gurunya menyebut dia sebagai &#8220;komponis tanpa harapan&#8221;. Ia menulis lima simfoni terkenalnya, dengan telinga yang tuli total.</p>
<p>Sebuah dealer barang seni menolak <strong>Picasso</strong> saat ia ingin numpang berteduh menyelamatkan lukisannya dari guyuran hujan. Tak lama kemudian dealer itu bangkrut.</p>
<p><strong>Van Gogh</strong> hanya berhasil menjual satu lukisan saja di dalam hidupnya. Itupun, dijual kepada saudara dari temannya seharga 400 franc (sekitar 50 USD). Ini tidak membuatnya berhenti untuk berkarya menghasilkan lebih dari 800 lukisan.</p>
<p>12 penerbit menolak &#8220;Harry Potter&#8221; karya <strong>JK Rowlings</strong> sebelum sebuah penerbit kecil setuju menerbitkan &#8220;Harry Potter and The Philosopher&#8217;s Stone&#8221;.</p>
<p>&#8220;<em>Komputer masa depan beratnya tidak akan lebih dari satu setengah ton.</em>&#8221; (<strong>Popular Mechanics</strong>, meramalkan kemajuan ilmu pengetahuan, 1949.)</p>
<p>&#8220;<em>Saya rasa, akan ada pasar dunia untuk sekitar lima komputer.</em>&#8221; (<strong>Thomas Watson</strong>, chairman of IBM, 1943.)</p>
<p>&#8220;<em>Saya sudah kemana-mana di negeri ini dan berbicara dengan orang-orang terbaik, dan Saya bisa meyakinkan Anda bahwa data processing adalah lelucon yang tak akan bertahan sampai akhir tahun.</em>&#8221; (Editor kepala untuk buku bisnis di <strong>Prentice Hall</strong>, 1957.)</p>
<p>&#8220;<em>Tapi apa bagusnya?</em>&#8221; (Insinyur di divisi Advanced Computing Systems <strong>IBM</strong>, mengomentari microchip, 1968)</p>
<p>&#8220;<em>Tidak ada alasan mengapa orang harus punya komputer di rumahnya.</em>&#8221; (<strong>Ken Olson</strong>, president, chairman dan founder of Digital Equipment Corp, 1977.)</p>
<p>&#8220;<em>Telepon ini terlalu merepotkan untuk dipertimbangkan sebagai alat komunikasi. Tak ada nilainya buat kita.</em>&#8221; (memo rapat di <strong>Western Union</strong>, 1876.)</p>
<p>&#8220;<em>Kotak musik tanpa kabel ini tak ada nilai komersialnya. Siapa sih yang mau membayar untuk lagu yang dikirim kepada orang yang tidak jelas?</em>&#8221; (Kolega <strong>David Sarnoff</strong> saat menolak investasi di bidang radio sekitar tahun 20-an.)</p>
<p>&#8220;<em>Siapa sih yang mau mendengar aktor berbicara?</em>&#8221; (<strong>HM Warner</strong>, Warner Bros, 1927 sesaat sebelum era film bisu berakhir.)</p>
<p>&#8220;<em>Mesin terbang yang lebih ringan dari udara. Itu mustahil banget</em>.&#8221; (<strong>Lord Kelvin</strong>, president, Royal Society, 1895.)</p>
<p>&#8220;<em>Kami lalu pergi ke Atari dan berkata, kami punya sesuatu yang istimewa, separuhnya menggunakan sparepart Anda, maukah Anda membiayai kami? Kami cuma mau mengerjakannya, nanti kami berikan seluruhnya kepada Anda. Bayar gaji kami, kami akan bekerja untuk Anda. Mereka bilang: nggak. Lalu kami pergi ke Hewlett-Packard; mereka bilang, kami tidak butuh Anda. Anda bahkan belum lulus kuliah</em>.&#8221; (<strong>Steve Jobs</strong>, founder Apple Computer saat merayu Atari and HP agar mau berinvestasi untuk membuat PC.)</p>
<p>&#8220;<em>Mengebor untuk minyak? Maksud kamu mengebor tanah untuk menemukan minyak? Gila luh!</em>&#8221; (Tukang bor yang ditawari <strong>Edwin L Drake</strong> untuk mengebor minyak, 1859.)</p>
<p>&#8220;<em>Pesawat terbang itu mainan bagus. Tapi nggak ada gunanya untuk militer</em>.&#8221; (<strong>Marsekal Ferdinand Foch</strong>, Professor of Strategy, Ecole Superieure de Guerre.)</p>
<p>&#8220;<em>Memory sebesar 640K sudah cukup untuk setiap orang</em>.&#8221; (<strong>Bill Gates</strong> of Microsoft, 1981.)</p>
<p>21 penerbit menolak novel humor <strong>Richard Hooker</strong>, M*A*S*H. Padahal dia  mengerjakannya tujuh tahun.</p>
<p>22 penerbit menolak buku <strong>James Joyce</strong> &#8220;The Dubliners&#8221;.</p>
<p>27 penerbit menolak buku pertama <strong>Dr. Seuss</strong>, &#8220;To Think That I Saw It on Mulberry Street&#8221;</p>
<p><strong>Jack London</strong> meneriman enam ratus surat penolakan sebelum berhasil menjual kisah pertamanya.</p>
<p>Novelist kriminal Inggris <strong>John Creasey</strong> menerima 753 surat penolakan sebelum ia berhasil menerbitkan 564 buku.</p>
<p><strong>William Saroyan</strong> mengumpulkan seribu penolakan sebelum berhasil menerbitkan &#8220;Way to not take a hint, Bill!&#8221;</p>
<p>Kolonel <strong>Harland Sanders </strong>ditolak ratusan kali, sebelum KFC-nya ngetop ke seluruh dunia.</p>
<p><strong>Daniel Boone</strong> ditanya apakah dia pernah tersesat di tengah hutan. Boone menjawab, &#8220;nggak, tapi pernah sih kesasar tiga hari.&#8221;</p>
<p><strong>John Milton</strong> menulis &#8220;Paradise Lost&#8221; selama 16 tahun setelah ia kehilangan penglihatannya.</p>
<p>Seorang profesor di MIT membuka kursus &#8220;Gagal&#8221;. Dia melakukannya, katanya, karena kegagalan adalah pengalaman yang lebih sering terjadi ketimbang sukses. Dalam sebuah interview seseorang bertanya kepadanya, apakah ada yang gagal dalam kursusnya itu. Ia berpikir sejenak dan kemudian berkata, &#8220;nggak sih, tapi ada dua yang tidak menyelesaikan.&#8221;</p>
<p><strong>James Sastrowijaya</strong> dari Jakarta, ditolak 20 bank sebelum berhasil meyakinkan enam bank. Ia kemudian menjadi milyarder properti dengan modal nol rupiah.</p>
<p><strong>Masbukhin</strong> si raja voucher, gagal bisnis berkali-kali sebelum menjadi &#8220;Karyawan Ber-Omzet Milyaran&#8221;.</p>
<p>Toko <strong>Roni Yuzirman</strong> di Tanah Abang terbakar. Ia kini makin berhasil dengan toko online, &#8220;Manet Vision&#8221;.</p>
<p>Seorang peserta seminar <strong>Tung Desem Waringin</strong> mengaku, &#8220;Tiga tahun yang lalu Saya adalah cleaning service di Golden Truly&#8221;. Sekarang, Saya punya Jaguar sendiri.</p>
<p><strong>Ikhwan Sopa</strong><br />
Trainer E.D.A.N.<br />
+62 21 70096855<br />
<em>QA Communication<br />
School of Motivational Communication<br />
Your Confidence Solution</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jualanbuku.com/2008/06/01/self-efficacy-mereka-tidak-menyerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ian Kasolo &#8211; Kisah Selebriti Gagal</title>
		<link>http://www.jualanbuku.com/2008/03/31/ian-kasolo-kisah-selebriti-gagal/</link>
		<comments>http://www.jualanbuku.com/2008/03/31/ian-kasolo-kisah-selebriti-gagal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 02:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar dari kegagalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jualanbuku.com/2008/03/31/ian-kasolo-kisah-selebriti-gagal/</guid>
		<description><![CDATA[Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.
Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.jualanbuku.com/images/post/ian-kasolo.jpg" alt="Ian Kasolo - Dangdut Mania I" align="left">Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.</p>
<p>Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.</p>
<p>Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. ”Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.</p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p>Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.</p>
<p>Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.</p>
<p>Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. ”Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.</p>
<p>Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.</p>
<p>Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. ”Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan ”goyang suster ngesot”.</p>
<p>Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. ”Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya.</p>
<p>Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. ”Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.</p>
<p>Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. ”Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.</p>
<p>Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. ”Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.</p>
<p>Korban mimpi<br />
Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.</p>
<p>Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.</p>
<p>”Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.</p>
<p>Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. ”Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.</p>
<p>Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. ”Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.</p>
<p>Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. ”Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”</p>
<p>Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. ”Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.</p>
<p>Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.</p>
<p>Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jualanbuku.com/2008/03/31/ian-kasolo-kisah-selebriti-gagal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.209 seconds -->
