Wanita Jelek Itu Ternyata Ibuku June 8, 2010
Posted by admin in : Article, Cerita menggugah , trackbackIni adalah sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita dstnya.
Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.
Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.
Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.
Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.
Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh
sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.
Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.
Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.
Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.
Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. “Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”. Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.
Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini di media cetak, saya sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan mamaku. Mamaku telah meninggal 3 th lebih saat itu.
Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya..
No related posts.



June 15th, 2010 at 5:53 pm
kita seharus ya menagkuhi bahwa sejelek ya orang tua titu juga orang tua kita bukan begitu jangan di kutuk seperti maling kundang kali
June 23rd, 2010 at 7:40 pm
mOmz,,,
i love u fulllll………
maap kalo anak mu yg satu ini blm bs membalas segala kebaikan yg telah diberikan sedari kecil..
July 1st, 2010 at 9:31 am
kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang galah……….
i love u mom
July 1st, 2010 at 2:56 pm
Mom, I love u …………
You’re the best in my life. Sometimes, I make you angry but you always smile with me. I’m sorry mom.
Frans.
August 15th, 2010 at 8:38 pm
maafin anakmu belum bisa membuat mom tersenyum….aku akan selalu menjagamu,membuat tersenyum
I love you mom….
August 19th, 2010 at 7:01 am
Jasa ibu selamanya takkan terbalaskan
September 12th, 2010 at 9:00 am
Maaf mak blm bs kasih apa2 tp sy terus berdoa agar sy dpt mmbrikan yg trbaik sblm ajal mmisahkn
September 24th, 2010 at 8:16 pm
kasihi dan sayangilah ibu yang sudah mengandung dan melahirkan kita
dia yang sudah mengasuh dan merawat kita dan mendidik kita dengan penuh kasih sayang.
janganlah sakiti hatinya….
bahagiakanlah dia…..
apabila kita pernah menyakiti hatinya, mengecewakannya
segeralah mohon ampunannya. dan jangan lagi kecewakan hatinya, jangan membuatnya sedih
October 13th, 2010 at 11:55 am
hiks hiks hikss.. aq rindu setentah mati kepadamu, ibu..
October 13th, 2010 at 11:56 am
naskahnya boleh dipublish? nama penulisnya ditulis bgmn? thx
October 13th, 2010 at 12:28 pm
@galih: penulis asli saya tidak tahu, silahkan publish saja
October 20th, 2010 at 4:32 pm
my eyes filled with tears now..
Lets show our love for our mother..
November 4th, 2010 at 12:32 pm
setelah aq baca barusan..betapa berdosanya kita pada orang tua kita selama ini
ma pa maafin anak mu yg masih selalu menyusahkan ini
November 29th, 2010 at 11:30 am
maafkan q ibu,aku kangen ibu…
i lov u mom
October 16th, 2011 at 1:28 pm
rasanya terlalu cepat bakti kita kepada orangtua, selepas bekerja ternyata hanya beberapam tahun beliau mendapatkan pengabdian dari kami, anak dan mantunya….
Tegarnya kaki ini melangkah, menapaki siang dan malam untuk belajar di kota orang
Dan..semangat yang bagai batu menyelesaikan tugas di kantor tanpa melihat capeknya badan….
semua itu hilang tak terasa….
Saat kulihat air mata ibundaku disepanjang malam saat berdoa untukku…
Ibundaku aku sayang padamu…