Pasang Iklan Disini


jump to navigation

Perang Semakin Canggih Aja January 15, 2009

Posted by admin in : Article, OOT, Opini , trackback

I am not a terroristArtikel ini ditulis bukan karena saya mendadak ingin menjadi analis perang, namun semata-mata karena prihatin dengan perang antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza. Walaupun terlihat hanya dua negara yang sedang berperang, namun saya yakin ada beberapa negara ikut berperang di belakang dua negara ini. Ini menandakan konsep perang sudah semakin canggih, tidak perlu memunculkan muka maka suatu negara dapat memicu perang.

Dimulai dari perang yang dimulai oleh Amerika Serikat di Afganistan dan Irak, hingga perang Israel dan Palestina kita melihat strategi maupun peralatan perang semakin canggih aja. Kalau dahulu rakyat Indonesia menggunakan bambu runcing untuk melawan penjajah yang bersenjatakan senapan dan meriam, maka saat ini peralatan sudah semakin canggih. Senapan yang digunakan semakin otomatis dan bisa menembakkan ratusan peluru per detik, meriam pun bisa menjangkau lokasi yang sangat jauh. Ditambah dengan roket-roket yang diluncurkan dari kapal induk maupun pesawat tempur yang bisa menjangkau sasaran yang telah ditandai.

Jika dahulu senjata selalu identik dengan bubuk mesiu, maka sekarang roket atau rudal di tambah dengan unsur kimia yang berbahaya dapat digunakan untuk membunuh seluruh orang di area tersebut tanpa sisa. Tujuan mereka adalah bagaimana cara menghancurkan musuh dengan efektif dan efisien. Maka dari itu mereka mengembangkan senjata yang tanpa disadari merupakan senjata pemusnah massal.

Dari strategi perang pun semakin canggih walaupun masih menggunakan dasar konsep-konsep strategi perang lama. Jika dulu kita berpropaganda menggunakan radio dan surat kabar, maka sepertinya media itu semakin ketinggalan jaman. Ada media yang lebih canggih untuk menampilkan multimedia berupa gambar dan suara dengan cepat seperti televisi dan internet.

Maka dari itu tak heran Israel memposting beberapa video ke situs video terkenal seperti YouTube. Walaupun akhirnya video tersebut dihapus oleh YouTube, namun Israel tidak kehilangan akal dengan membuat situs yang dikelola sendiri. Dengan cara ini maka Israel bisa mengirimkan gambar-gambar dan informasi terbaru untuk mendapatkan dukungan dari negara lain.

Palestina pun tidak mau kalah, mereka mengerti peran media maka dari itu sniper mereka dilengkapi dengan video yang menayangkan keberhasilan mereka melumpuhkan tentara Israel. Dengan cara ini mereka bisa menyiarkan semangat maupun perjuangan mereka ke luar negeri. Walaupun agak terlambat sepertinya Liga Arab sudah memberikan respon terhadap Konflik Israel dan Palestina.

Hal-hal di atas memunculkan pertanyaan apakah semakin tinggi teknologi menunjukkan semakin tinggi peradaban manusia? Bukankah teknologi diciptakan untuk membantu kehidupan manusia, apakah teknologi juga layak digunakan untuk membunuh sesama manusia? Entah sampai mana manusia akan menguji batas kemampuan mereka di dunia ini. Hingga saatnya itu manusia tidak akan menemukan apa pun, bukankah semua manusia adalah sama? Hanya perbedaan kecil yang tidak berarti seperti ada yang hidungnya lebih mancung, ada yang matanya lebih sipit atau kulitnya lebih legam.

Tidak bisa terbayangkan bagaimana rakyat Palestina bisa tidur nyenyak setiap harinya jika selalu dibombardir seperti itu. Terlebih anak-anak yang tidak bisa menikmati masa kanak-kanak yang bahagia yang bisa mendukung perkembangan mentalnya. Sepertinya perang selalu harus mengorbankan sisi kemanusiaan.

Perang sepertinya merupakan tontonan menarik bagi sebagian orang. Seperti ditayangkan di televisi, beberapa orang menonton pertempuran di Jalur Gaza seperti sedang berpiknik saja lengkap dengan teropong jarak jauh dan komentar seperti menonton pertandingan sepakbola. Apakah mereka tidak sadar sedang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain?

Semoga artikel ini menggugah orang-orang yang bersimpati dengan perdamaian untuk selalu mengingat nilai hidup manusia yang sangat berharga ini. Hidup yang lebih berharga diisi dengan perdamaian dan kasih sayang daripada saling mencaci maki maupun membunuh antar sesama manusia.


3 Responses to “Perang Semakin Canggih Aja”

  1. 1
    nurse Says:

    Pada dasarnya teknologi diciptakan untuk memudahkan orang dalam menggapai kesejahteraan hidupnya.
    Secara batiniah, dibelahan manapun didunia ini, manusia itu mendambakan keamanan dan kedamaian, Namun acapkali bisikan hati tersebut tergilas oleh ketamakan dan ambisi beberapa gelintir pemimpin dengan dalih mempertahankan harga diri atau martabat yang cenderung propokatif, sehingga tanpa sadar rakyat jelata menjadi korban kekeliruan penggunaan teknologi akibat dari pertikaian mereka. Mereka yang terlibat perang pada hakekatnnya sama sama keras kepala, tidak sudi mengalah demi gengsi. Seolah pintu berunding sudah tidak ada lagi. Itulah barangkali, mengapa Allah menurunkan agama yang memberi tuntunan kedamaian, tapi justru dalam tataran praktek, terkadang dijadikan alat propokasi untuk mencari teman dan memojokan lawan. Mestinya mereka sadar akan filosophi alam, “kalau batu dilawan dengan batu akibatnya hancur berkeping keping”. Seyogyanya batu (sifat keras), di lawan dengan air (penuh kelembutan), dalam konteks ini adalah dialog. Meskipun prosesnya lama dan menuntut keasabaran, tapi hasilnya akan lebih baik. Marilah kita berdoa, agar Allah mengampuni mereka yang sedang gelap mata serta segera memberi kerukunan dan kedamaian. Amin..

  2. 2
    admin Says:

    saya setuju dengan nurse, kebencian tidak bisa dibalas dengan kebencian. tapi kebencian bisa dibalas dengan kasih sayang

  3. 3
    GIU HILARIUS Says:

    Sebagai sesama umat manusia kita mesti prihatin dengan konflik di Timor Tengah sekarang ini semakin memanas, tiada waktu tanpa pertikaian. Dari zaman dahulu baik sebelum peradaban modern telah terjadi di sana. Dengan adanya persejantaan modern semakin menjadi-jadi di sana. Marilah kita doakan bersama semoga pertikaian akan berakhir, permusuhan dihentikan, tidak ada lagi niat menghancurkan negara lain dan umatNya. Siapapun dia sama-sama ciptaan Tuhan. Sangata prihatin anak-anak tidak seceria anak-anak kita, pertumpahan darah selalu terus berlanjut. Kami bisa merasakan semuanya itu karena sejak kecil kami di Timor Loro Sae, tidaklah berbeda, hanya sejarah dan faktanya lain karena negera miskin taktik diplomasi yang mereka gunakan.

Leave a Reply