Pasang Iklan Disini


jump to navigation

Masihkah menabung relevan saat ini? December 13, 2008

Posted by admin in : Opini, Studi Kasus , trackback

Saya sudah mulai belajar menabung sejak SD. Tabungan ini saya kumpulkan dari uang saku yang tidak habis saya belanjakan plus tambahan pemasukan dari usaha menyewakan majalah maupun mainan anak-anak di antara teman sekolah saya. Sejak kecil saya memang menyukai bisnis. Dari kecil saya sudah mengerti tentang pentingnya untuk mengatur pengeluaran saya agar sesuai dengan pemasukkan saya.

Sejak SMA saya sudah mulai membayar uang SPP saya sendiri. Saya menyukai hal-hal baru sehingga selain pelajaran di sekolah saya membekali diri saya dengan elektronika, music maupun keterampilan lain yaitu reparasi jam, beternak ayam boiler dan komputer. Mungkin Anda terkejut karena sebenarnya banyak murid-murid sudah membekali dirinya secara pribadi dengan berbagai keterampilan. Saya kagum dengan beberapa murid SMA di ibukota yang jago-jago menggunakan komputer, hal yang saat saya SMA merupakan hal yang mahal bagi saya. Bahkan saya mengenal seseorang yang sudah bekerja pada salah satu perusahaan web design.

Disini saya ingin menekankan penting bagi orang tua untuk meningkatkan kecerdasan finansial anaknya sejak usia dini, karena kurikulum pendidikan di indonesia tidak mengajarkan hal ini kepada murid-muridnya. Saya merekomendasikan Anda untuk membaca buku-buku karangan Robert T Kiyosaki untuk meningkatkan kecerdasan finansial karena mudah untuk dimengerti. Yang diajarkan oleh pendidikan kita hanyalah hal yang bersifat teknis dimana kita belajar untuk mendapatkan pekerjaan.

Contoh buruknya kecerdasan finansial di kalangan pekerja sudah terbukti dalam krisis ekonomi yang terjadi di amerika serikat. Bagaimana kalangan muda disana terbuai dengan sistem yang membutakan mata finansial mereka. Gaji tinggi terbukti tidak mampu menghadapi krisis ini. Banyak PHK di sana-sini. Hal yang dibutuhkan disini adalah kecerdasan finansial yang baik. Banyak blunder-blunder finansial yang dilakukan oleh mereka yang menganut sistem lebih besar pasak daripada tiangnya dalam artian lebih menyukai membuat hutang. Bukankah wall street dipenuhi oleh sarjana-sarjana terkemuka?

Marilah kita mulai membahas tentang kegiatan menabung yang sudah Anda lakukan. Menabung adalah suatu kegiatan berkala yang dilakukan terus menerus dengan menumpuk dana dari penghasilan Anda. Menabung bisa dilakukan per hari, per minggu, per bulan dan seterusnya. Tapi yang banyak dilakukan orang adalah menabung per bulan. Biasanya diambil beberapa persen dari penghasilan kita kemudian disimpan dalam tempat khusus seperti brankas atau pun di bank.

Jika disimpan di bank maka Anda akan mendapat keuntungan dari bunga bank dan lebih aman jika dibandingkan dengan disimpan di brankas. Bunga bank yang Anda dapatkan bervariasi tergantung bank tapi kisaran 2-7%/thn. Untuk yang memiliki dana dingin maka mereka akan mendepositokan dana tersebut dengan bunga yang lebih tinggi, tapi kisaran sekitar 4-8,5 %/thn kalau ORI yg terakhir bunganya 9,5%/thn.

Tapi perlu diingat menabung di bank ada biaya administrasi maupun pajak bunga. Ya bunga pun ada pajaknya. Jika Anda tidak jeli maka Anda tidak akan menyadari hal ini. Nilainya kira-kira sebesar 20 persen dari bunga Anda. Anggaplah Anda memiliki uang 100 juta rupiah di bank dalam rekening tabungan biasa. Maka dalam 1 tahun maksimal uang Anda akan bertambah sekitar 2-7 juta. Ini pun belum dipotong pajak bunga dan biaya administrasi jika Ada. Karena tidak semua bank yang membebankan biaya administrasi ke nasabahnya.

Namun catatan penting disini adalah nilai inflasi untuk nilai uang Anda. Di Indonesia nilai inflasi sudah menyentuh 8,3 persen dan diperkirakan akan meningkat karena krisis ekonomi global ini. Artinya jika hari ini Anda bisa membeli pisang goreng seharga Rp. 500 rupiah maka tahun depan Anda harus membeli Rp. 541,5 rupiah (inflasi 8,3 persen). Mungkin saya terlalu ekstrim dengan menggunakan pisang goreng sebagai contoh tetapi disini nilai pertambahan tabungan Anda per tahun tidak mampu membendung tingkat inflasi di Indonesia.

Robert T Kiyosaki selalu menekankan tentang sistem mata uang yang ia sebut sebagai uang semu karena nilainya terus menurun. Dahulu uang yang kita gunakan adalah uang riil seperti emas dan perak, namun sejak diperkenalkan sistem mata uang kertas dan logam maka nilai uang menjadi semu karena selalu mengalami penyusutan. Artinya Anda membutuhkan lebih banyak uang lagi untuk membeli barang yang sama di kemudian hari.

Dengan digunakannya sistem mata uang ini berarti Anda harus mengubah cara berpikir Anda, jika tidak maka nilai uang Anda akan tergerus oleh waktu. Disini Anda perlu memikirkan tentang investasi. Walaupun mungkin kegiatan menabung yang Anda lakukan ditujukan untuk investasi yang lebih besar di kemudian hari. Namun perlu Anda pikirkan tentang apakah cara Anda ini efektif.

Contoh jika Anda ingin membeli sebuah rumah seharga 100 juta. Sedangkan uang yang Anda miliki belum cukup maka Anda akan berpikir untuk menabung sehingga mencukupi nilai 100 juta. Namun sayangnya, jika Anda terlalu lama menabung maka harga rumah sudah melambung tinggi dan saat itu Anda kehilangan kesempatan untuk membeli dengan harga Rp. 100 juta.

Disini diperlukan kecerdasan finansial yang lebih baik. Seperti yang dikatakan oleh Robert T Kiyosaki, mulailah berinvestasi dari sesuatu yang kecil dahulu. Setelah investasi yang kecil berhasil kembangkan menjadi investasi yang lebih besar dan begitu seterusnya. Jika Anda tidak mampu membeli rumah seharga 100 juta, maka investasikan uang Anda saat ini untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi sehingga dalam waktu itu Anda bisa membeli rumah tersebut dengan harga saat itu.

Apakah Anda bisa melakukannya dengan cara menabung? Saya pikir susah untuk mendapatkannya. Saat ini saya selalu berusaha meningkatkan kecerdasan finansial saya. Alih-alih menyimpan uang di bank saya investasikan dalam emas maupun properti. Beberapa bagian saya pinjamkan kepada orang lain dengan bunga yang hampir sama dengan bank. bank menggunakan cara ini untuk mendapatkan keuntungan dari uang Anda, memberikan bunga yang lebih kecil ke Anda namun ketika Anda meminjam uang di bank maka bunganya berlipat-lipat. Tentunya pajak selalu dikenakan ke Anda.

Saya juga pernah bermain forex maupun saham menggunakan trader, namun ternyata itu bukan investasi yang cerdas karena kita tidak memiliki kendali terhadap investasi kita. Dan hasilnya ludes berpuluh-puluh juta. Walaupun saya tidak bisa memungkiri beberapa orang sukses di forex maupun saham tapi hanya persentase yang sangat kecil. Robert T Kiyosaki sering berkata orang yang menyerahkan uang kita ke orang lain tanpa tahu sistemnya sama dengan orang yang tidak bisa berinvestasi dan bodoh secara finansial.

Jadi berdasarkan uraian di atas apakah Anda masih menganggap menabung relevan untuk situasi saat ini sebagai sebuah investasi yang cerdas?


6 Responses to “Masihkah menabung relevan saat ini?”

  1. 1
    The Day That Adsense Died Says:

    menabung mah gak akan ada basinya.. cuman jgn cuma bisa menabung, kita jg harus belajar investasi…

  2. 2
    iqbal Says:

    Terus terang, bahkan di usia yang telah lebih dari 1/3 abad, kata ‘menabung’ untuk diri saya merupakan hal yang terkahir saya lakukan. Apalagi setelah sedikit mempunyai pengalaman bahwa ternyata perbankan (di Indonesia?) belum mampu untuk menjalankan fungsi intermediary secara tepat dan mampu menggenjot sektor real (terutama UMKM). So, IMHO, prioritas adalah investasi langsung (di kegiatan bisnis pribadi maupun relasi) dan pilihan terakhir adalah menabung.

    Salam super.

  3. 3
    nyit Says:

    sampai sekarang saya masih berusaha untuk tidak bergantung pada gaji, nice blog for sharing 🙂

  4. 4
    pratolo Says:

    Saya kira menabung itu cara kuno dalam menyimpan uang.
    Pelajari akibat inflasi pd tabungan anda:
    http://pratolo.com/2008/12/27/fooled-by-inflation-tertipu-oleh-inflasi/

    Salam.

  5. 5
    Hendro Siswanto Says:

    Menabung itu tetap perlu. Tapi lebih perlu lagi memutar uang hasil tabungan itu sehingga berbuah lebih banyak.
    Salah satunya dengan membuka bisnis. Tapi jika anda takut berbisnis paling tidak anda dapat memulai usaha dengan modal sedikit, seperti properti, internet marketing dsb.

    Anda dapat lihat lebih lanjut di http://www.peluangusaha.asia

    Salam sukses bung,

    Hendro Siswanto
    http://www.peluangusaha.asia

  6. 6
    siti r Says:

    penting dan tidaknya menabung, tergantung tujuan. kalau tujuan tuk cari keuntungan, jelas rugi. apalagi kalau jumalah uang cuma sedikit, lama – lama habis kena biaya administrasi.
    kalau jumlah uang banyak dan anda berani ambil resiko untuk bisnis. jelas lebih menguntungkan, uang anda bisa menjadi berlipat-lipat.
    disamping itu juga perlu dipertimbangkan menabung hanya untuk cadangan kalau ada keperluan mendadak, atau keperluan terprogram : tabungan Haji, Tabungan Hari Raya, Tabungan Liburan, dll.
    ada peribahasa : SEDIKIT DEMI SEDIKIT LAMA-LAMA JADI BUKIT. sekarang peribahasa itu perlu ditambah sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit…..KALAH CEPAT DENGAN YANG KREDIT.
    AWAS!!! kebanyakan kredit bisa jadi pailit.

Leave a Reply