Pasang Iklan Disini


jump to navigation

Hemat Itu Gaya May 29, 2008

Posted by admin in : Article, Mentalitas , trackback

“Dapatkan satu set dapur branded, ditambah satu jaket kulit eksklusif, bila anda membeli apartemen sebelum akhir bulan ini”,”Bagi putra putri Anda, mainan kecil selama penerbangan” . Serbuan promosi ini kesemuanya ditanggapi oleh kita, baik yang kaya maupun miskin, yang perlu ataupun tidak memerlukan, dengan ungakapan: “kenapa tidak?” Apakah sesudah itu jaket maupun mainan dibuang ke tong sampah karena tidak cukup “berharga” untuk disimpan, itu urusan laen. Yang penting, kita “mendapatkan” -nya.

Tanpa sadar prilaku konsumsi kita sudah berjalan tanpa pikir panjang lagi. Kita tidak terlalu memedulikan lagi, apakah kita menjalankan “over consumption” yang diikuti prilaku membuang sampah, sesaat menggunakan produk kemudian mengganti lagi dengan produk laen atau mengikuti tren produk selanjutnya. Gejala “over consumption” ini sudah menggejala di setiap lapisan masyarakat secara menyedihkan. Tengok betapa seorang yg berpenghasilan dibawah satu juta rupiah membelanjakan uangnya untuk membeli pulsa ponsel. Seberapa pentingkah komunikasi instan ini bagi dirinya?

Sering dengan ajakan banyak pihak termasuk pemerintah untuk mengencangkan ikat pinggang, semakin gencar pula para produsen bersaing melalui upaya pemasaran yang gila-gilan. “50% diskon untuk makan di restoran ternama, selama tiga bulan ini”. Alhasil, makanan restoran yang dulunya kita nikmati sedikit-sedikit dan perlahan-lahan sekarang kita konsumsi lebih banyak, bahkan kadang sampai terbuang percuma. Meskipun beberapa orang tua masih kerap menasehati putra putrinya untuk “ingat pada yang tidak punya makanan”. namum konsumsi makanan (baca: berlebihan) tetap berjalan terus.

Kita jadi sadar bahwa kita berada di tengah ambivalensi perasaan dan evaluasi mengenai realitas sosial dan konsumsi kita sendiri. Keadaan yang kita sadari ini pun ingin kita ubah, namun tenaga serasa tidak cukup untuk berubah dan mengubah gaya hidup seketika. Tanpa terasa badai konsumsi sudah bergitu kuat mewarnai hidup kita dan sudah kita anggap sebagai
kebutuhan pokok. Keluarga menengah yang tinggal, misalnya dibilangan Bekasi, sering kita lihat mengupayakan untuk punya mobil dua. “saya bekerja di Tangerang dan istri berkantor di daerah Sudirman”. kami tidak punya waktu pilihan.

Kalau tidak menggunakan dua mobil, kami tidak punya waktu untuk keluarga”. Kenyataan seperti ini seolah berbunyi “No Way Out”. yang kemudian bisa membuahkan sikap apatis, tidak berdaya, tanpa ancang-ancang langkah mundur bila, misalnya, harga BBM melonjak dan tidak terbayarkan lagi.

Cerminan Diri
Semenjak tahun 80-an, keberadaan mal-mal indah, sejuk dan nyaman seakan menjadikan kegiatan shopping sebagai ritual yang sah, bahkan dijadikan sarana untuk mengumandankan “Siapa Saya” alias identitas diri. “Apa yang kita beli dan konsumsi, adalah cerminan dari diri kita”. Tanpa sadar kita sudah berada pada situasi dimana konsumsi tidak ada  hubungannya dengan “biaya” dan kebutuhan. Konsumsi adalah “impluse”, yaitu reaksi implusif yan secara sengaja  dipelajari dan didalami oleh kaum marketers yang berusaha untuk menyasar para konsumen agar lebih mengonsumsi dan mengonsumsi lagi.
Operator telepon, penjual minuman, bahkan rokok sangat menyadari bahwa konsumen yang paling empuk adalah remaja. Dan, karenanya remaja dininabobokan dengan konsumsi yan mudah, ringan tetapi adiktif, menjebak, dan sulit bisa lepas lagi. Pertanyaannya, mungkihkah kita kembali ke era dimana kita melakukan “reasonable & reflective consumption” , dan  dengannya berpikir keras mengenai kuantitas dan kualitas barang yang kita konsumsi?

Antara “Punya dan Berbagi”
Saya teringat kebiasaan ayah saya di tahun 60-an, yang setiap pagi hari pukul 6 berangka tdari rumah di Cilandak dan mengangkut beberapa anak sekolah langganan sepanjang jl. Fatmawati, yang sudah seolah ber-“gentleman agreement” untuk berangkat bersama.

“Daripada kosong”, bergitu komentar ayah saya yang dengan bangga mengendarai Austin Thames-nnya, mobil pribadi pertama yang dimilikinya. Memiliki mobil pada zaman itu merupakan prestasi yang sangat dibanggakan, tetapi kemudian “berbagi fungsi dan kemudahan membuat hidup lebih bermakna lagi”. Mengapa di zaman sekarang, kita tidak kunjung bisa
menanggulangi jalan macet dengan berbagi? Bahkan, kita menghalalkan pelanggaran dengan memanfaatkan para “joki” demi “privacy” alias “selfishness”. Gaya hidup “berbagi” memang tidak terlalu populer dikalangan “gaul”, dibandingkan dengan isu “mempunyai”. Disinilah budaya selfishness tumbuh subur tanpa sada bahwa dengan memanfaatkan dan menikmati kebersamaan dan hubungan sosial, kita bisa lebih sejahtera.

Berhemat itu Canggih
is “matre” atau sikap materialistis nampaknya sudah kuno, basi, tidak signifikan lagi, karena kita memang sudah terbiasa, bahkan terbelenggu menjadi konsumen setia. Kemudahan dan keuntungan sebagai pemegang kartu kredit dan kartu debet dan segala macam kemudahan berutang menjadikan kita tidk kuasa lagi untuk setiap kali, berhenti sejenak, berpikir, dan mempertimbangkan tentang pengeluaran uang, ongkos, serta kegunaan dari barang, produk maupun jasa yang kita konsumsi, nampaknya untuk berhemat, semua dari kita perlu “start from scratch” dan mendesain suatu pendekatan yang lebih manusiawi ketimbang membeli, demi menyelamatkan kesejahteraan fisiologis, psikologis, emosional, dan spiritual.

Eileen rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
Assessment Centre
Kompas, Sabtu, 24 Mei 2008, hal 49


Leave a Reply