Pasang Iklan Disini


jump to navigation

Mengapa uang semakin susah dicari May 15, 2008

Posted by admin in : Article, Opini , trackback

Ditulis oleh Goenardjoadi Goenawan

Dulu sekitar tahun 1991 ketika menghadiri sebuah acara pembukaan Hero Supermarket saya mendengar pidato Muhamad Saleh Kurnia pendiri Hero mengatakan bahwa dirinya membesarkan Hero, dengan menambah banyak cabang, tujuannya bukan profit.  Paling tidak tujuan prioritas pertama di benaknya bukan itu.  Lalu apa?  Jawabnya: tujuannya adalah untuk menciptakan lapangan kerja.  Dia sungguh ingin supaya paling tidak Karyawan Hero bisa menghidupi keluarganya masing-masing.

Setelah berjalan 17 tahun kemudian saya sudah lupa dengan perkataan Pak MS Kurnia tersebut.  Lagipula apa benar bahwa pemilik sebuah bisnis lebih memikirkan nafkah penghidupan karyawannya?  Apa benar begitu?  Saya masih sangsi.

Lalu setelah berjalan 17 tahun saat ini kondisi ekonomi benar-benar terpuruk. Begitu banyak PHK, pabrik tutup, pengusaha banyak yang memilih pensiun.  Akibatnya, begitu banyak pengangguran, pengurangan karyawan berlaku selama ini.  Kalau dulu menjadi pengangguran adalah momok rasa malu, maka sekarang menjadi pengangguran sudah menjadi profesi wajar.  Setiap keluarga beranak empat, maka yang dua bekerja dan dua lainnya mengantar jemput.  Ini banyak merata terjadi di kota-kota besar.

Mengapa ini bisa terjadi?

Sebelumnya kita melihat begitu marak demo buruh.  Dimana-mana demo masalah UMP.  Masalah Jamsostek.  Masalah Undang Undang Perburuhan.  Dan kita berpikir, memang seharusnya kita mendukung perjuangan buruh, karena mereka sungguh miskin.

Namun apa yang terjadi?

Seperti cerita sebuah perusahaan.  Kita akan memprioritaskan (mendukung) pemilik modal, atau mendukung buruh?  Apa jadinya ketika pemilik modal tidak didukung?  Apakah lalu perusahaan bisa menjadi lebih adil, merata, atau malah tutup?

Di Kediri ada sebuah perusahaan rokok yang menerapkan jam kerja buruhnya 4 jam per hari.  Mengapa begini?  Karena ternyata kondisi pasar rokok saat ini menurun untuk SKT, namun yang SKM meningkat.  Akibatnya produksi manual menurun, namun perusahaan tidak dapat mengurangi tenaga kerja, akibatnya perusahaan harus menanggung beban biaya tenaga kerja yang tinggi, sedangkan penjualan menurun.

Di Surabaya masih banyak perusahan yang lebih memilih untuk tetap menggunakan proses manual, dibandingkan proses otomatis menggunakan mesin.  Bayangkan produksi sabun sebanyak untuk keperluan rakyat Indonesia semua, dikerjakan secara manual.  Ditimbang, dimasukkan plastik, semua dikerjakan manual.  Banyak sekali buruhnya.

Apa jadinya bila pemerintah tidak mendukung investasi?  Tidak mendukung Investor?  Tidak menarik Investor?  Tidak menjaga kepentingan Investor?  Maka akibatnya fatal.

Tidak ada investasi.  Artinya tidak ada multiplier effect.  Pengusaha lebih memilih untuk menutup pabriknya.  Dan memindahkan ke Vietnam.

Akhirnya rakyat menanggung penurunan daya beli.  Pengangguran.  Kemiskinan dimana-mana.  Banyak rakyat menderita.

Dan semua orang mengeluh, mengapa uang semakin susah dicari?  Kemana uang pergi?  Seolah-olah menguap di tengah panasnya kemarau Indonesia, uang tiba-tiba menjadi susah, menjadi langka.

Uang itu sebenarnya bisa berkembang biak dengan sendirinya, berbentuk Capital gain.

Jangan pikir bahwa uang itu adalah upah, atau tabungan, atau belanja.  Itu kecil.  Bayangkan uang sejumlah Rp 500 juta.  Tentu itu sungguh mustahil bila menunggu tabungan dari upah.  Lama sekali.

Uang ditimbulkan dari Multiplier effect, menjadi Capital Gain.  Itu yang besar.  Rata-rata pengusaha menggunakan uang Cashflow sebesar 10% dari omzet per tahun.  Bayangkan, uang diputar menjadi 10 kali lipat, untuk menghasilkan profit.  Itu yang besar.  Apalagi ditunjang dengan pasar modal, pasar uang.

Oleh karena itu, pemerintah yang baik, akan mendukung iklim investasi.  Tidak cuma untuk Adam air, dll.  Namun untuk seluas-luasnya.  Investor dari Hong Kong, India, China, Singapore, Malysia, semua harus diundang masuk.  Di negara lain, Chamber of Commerce (semacam Kadin, asosiasi pengusaha) senantiasa didengar.  Diperhatikan.  Didukung.  Mereka penggerak ekonomi sebuah negara.

Artinya menarik pemilik modal, Investor untuk menanamkan uangnya menjadi sebuah perusahaan.  Itu  kesadaran yang tidak terjadi di Indonesia.  Masyarakat lupa siapa yang menciptakan kesempatan kerja?  Siapa yang menciptakan Capital gain? Siapa yang menciptakan uang? Maka uang susah dimana-mana.

Seperti kampanye Bill Clinton dulu, mereka sukses dengan thema “It’s the economy.”

salam,

Goen


Leave a Reply