Pasang Iklan Disini


jump to navigation

Ian Kasolo – Kisah Selebriti Gagal March 31, 2008

Posted by admin in : Article, Belajar dari kegagalan , trackback

Ian Kasolo - Dangdut Mania ISetahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.

Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. ”Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.

Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.

Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.

Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. ”Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.

Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.

Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. ”Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan ”goyang suster ngesot”.

Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. ”Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya.

Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. ”Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.

Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. ”Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.

Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. ”Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.

Korban mimpi
Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.

Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.

”Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.

Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. ”Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.

Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. ”Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.

Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. ”Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”

Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. ”Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.

Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.


14 Responses to “Ian Kasolo – Kisah Selebriti Gagal”

  1. 1
    pengusaha solo Says:

    Halo Ian Kasolo,saya agak kaget juga dengan cerita kamu,sebenarnya momentum kamu masih sedikit ada (nyatanya aku masih ingat kamu…kaya judul lagu)plus nama kamu terangkat Ian Kasela yang sampe sekarang masih ada momentum (sedikit),saranku selain kamu berthan untuk hidup ,genapi ketrampilan kamu dengan ketrampilan yang bisa dijual,entah itu dangdut,lawak,joget ato silat lidah,terus dekat sama orang orang terkenal di solo,misal pak Mayor haristanto,pak Jokowi,wawin,dsb minta supaya diajak dalam hal apapun (bahkan kalo gak dibayar),dengan anggapan untuk cari momentum yang lebih besar…kao mau juga gabung dengan pengusaha solo.com
    telpun lucas 02715867338,ato email info@pengusahasolo.com

    siapa tau kami bisa jadi manager kamu..

  2. 2
    Kabar Bagus Says:

    Bagus baget ajakkan bapak pengusahaan dari solo ini, mudah-mudahan saudara Muhammad atau Ian dapat mendengar kabar dari saudara yg di Solo ini dan dapat membantu saudara Ian.

  3. 3
    someone_female Says:

    hm…benar2 membuka wawasan baru nih… semoga tidak ada lagi korban-korban berikutnya…
    perlu disebarin nih … 🙂
    aq ijin ya, nanti saya cantumkan sumbernya kok .. 🙂

  4. 4
    admin Says:

    silahkan, ini artikel saya dapat dari email juga. tanpa sumber juga gpp

  5. 5
    bajak laut Says:

    Kayak AFI yang di indonsiar itu. Kayaknya sudah nggak ada yang nongol lagi tuh di TV. Kalaupun nongol juga karena ada kontes nyanyi

  6. 6
    rioLAROCCA Says:

    ituLah pertELEvisian kita saat ini.. Sudah taK Layak lagi di Konsumsi.

  7. 7
    dian Says:

    jadi pelajaran tuh…….

  8. 8
    dani pl Says:

    Yaah..kasian si.tp bersyukur itu prlu.ambl sisi pstfny.cb byngkn kl bnr2 jd artis,jalan ke maksiat mkn tbuka lbar.dan yg dulu khdupn tdk prnh mrasakn yg enak2,pasti brktny ingin mncb smua.
    Jd Alloh msh sayang ma njenengan.msh diingetin.ttp smangat y pak..dan lg,nama muhammad jauh lbh baek dr ian kasolo deh:-D

  9. 9
    nna Says:

    mmmm…..menarik untuk dipelajari..

  10. 10
    nurse Says:

    Kalau dicermati, Mas Ian Kasolo korban ambisinya sendiri. Kasian, ini perlu buat pelajaran kita semua. Setiap orang harus punya ambisi untuk mamacu semangat, asal jangan ambisius yang cenderung menghalalkan segala cara, pendek pikirannya dan tidak rasional. Mari belajar mengukur diri sendiri

  11. 11
    fernand Says:

    wah mas ian kasolo yang tabah…
    ingat lho hidup tetp harus dijalankan…jangan sampai terus menyerah..berdoa dan berusaha mas,moga-moga mas ian bisa berjaya kembali,amiin..

  12. 12
    rony Says:

    nazib…nzib…tp tetep smangat bro

  13. 13
    arif Says:

    wah tetap semangat mas muhammad…….
    hidup bagaikan roda pedati…..kadang diatas kadang dibawah………
    yang penting tetap semangat berusaha bangkit lagi….bersabar…ikhlas…..ikhtiar dan tawakal….
    mungkin mas muhammad nantinya bisa sukses dengan bisnis kateringnya…..
    tidak ada namanya kegagalan…..tetap semangat ………never give up…….

  14. 14
    pembasmi dangduterZ Says:

    makanya ini dijadikan pelajaran ya mas

    hal yang di dapat dg instant ntar hilangnya jga instant pula jd nyesel dc kalo da gt

    kalo mau sukses sebaiknya dg cara usaha keras insya Allah berhasil

Leave a Reply