Pasang Iklan Disini


jump to navigation

Prof. Nelson Tansu, PhD – Profesor termuda di AS March 6, 2008

Posted by admin in : Indonesian, People Power , trackback

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia . Kenapa?

Profesor termuda di AS dari indonesia Nelson Tansu lahir di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia .

Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk “pulang”. Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia . Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika , ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia . Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia . Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?

Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore , gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia . Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia . Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk “cari makan”.


4 Responses to “Prof. Nelson Tansu, PhD – Profesor termuda di AS”

  1. 1
    Ravenala G Saputra Says:

    saya sangat mengagumi anda,dalam pencapain yang sudah anda lalui, itu membuat bangga di dalam jiwa nasionalisme siapapun yang mengetahui bahwa masih ada orang indonesia yang dengan bangga menyatakan dirinya sebagaI WNI di negeri orang,Thanks for ur inspiration.

  2. 2
    monacely Says:

    Teruskan Bung buat artikel yang bagus sehingga memberikan inspirasi buat banyak orang…………..sip deh…………….

  3. 3
    Marsella H Says:

    Yanto Chandra: Putra Bangsa Pertama yang menjadi Pemikir Manajemen Terkemuka di Dunia

    Namanya nama Indonesia tulen. Yanto Chandra, Ph.D. http://www1.fee.uva.nl/pp/ychandra/
    Ia adalah Tenured Assistant Professor di Amsterdam Business School, University of Amsterdam. Posisi Tenure ini ia capai hanya dalam waktu 2 tahun – suatu pencapaian luar biasa dan pengakuan tersendiri di kalangan akademisis di Barat. Ia adalah pakar di bidang Inovasi dan Kewirausahaan Internasional. Karena punya nama Indonesia, ia jadi punya daya tarik tersendiri. Apalagi ia berkarya dengan cemerlang di negara yang pernah menjajah Indonesia selama 365 tahun. Ini suatu prestasi bangsa yang inspirasional dan fenomenal. Sayang ia tidak hadir di acara Kick Andi yang baru baru ini ditayangkan di televisi. Biasanya pemerintah Uni Eropa termasuk Belanda berminat sekali untuk menarik orang berbakat alias genius semacam ini untuk menjadi warga negara mereka. Tetapi Dr Chandra ini lebih memilih untuk memegang Paspor Hijau Republik Indonesia. Ketika ditanya mengapa, ia bilang “Saya cinta Indonesia. Saya akan kembali ke tanah air dalam waktu yang tidak terlalu lama”.

    Terlahir di Dumai (Riau) pada tanggal 29 September 2009, Dr Chandra mendapatkan gelar PhD dari University of New South Wales, Australia (2003-2007) atas beasiswa penuh dari AusAid. Tesis doktoralnya lulus cemerlang dengan pengujian dari para pakar kelas dunia di Kanada, Amerika dan Inggris seperti Nicole Coviello, Tamer Cavusgil dan Jim Bell. Ia juga mendapatkan beasiswa yang sama untuk gelar Master of Commerce (1999-2000). Setelah lulus Master, ia bekerja beberapa tahun di Jakarta dan Singapura sebagai konsultan manajemen di beberapa perusahaan multinasional sepert Lowe Lintas, Taylor Nelson Sofres, Ruder Finn Asia dan Arthur Andersen. Dr Chandra tercatat di Marquis Who’s Who in the World, sebuah institusi pemeringkatan terhadap orang orang berkaliber dunia. Dr Chandra ini memiliki publikasi top di jurnal ilmiah bisnis seperti Journal of World Business, International Marketing Review, International Journal of Production Research. Jarang sekali ada nama Indonesia di jurnal seperti itu. Ia juga memiliki sederet riwayat berbicara di konferensi ilmiah di berbagai negara dari Amerika, Inggris, Finlandia, Italia, Belanda, Belgia, Perancis, Cina, Taiwan dan Indonesia. Ia juga sering menulis artikel di media di tanah air seperti the Jakarta Post, Harian Bisnis Indonesia, dan dimuat di Campus Asia, Investor Daily, Suara Pembaruan dan lain lain. Tahun 2009 ini ia sempat liburan ke Jakarta dan menjadi pembicara tamu di berbagai universitas terkemuka di Jakarta.

    “Saya bangga Bendera Merah Putih berkibar di tanah Belanda”, kata Dr Chandra. “Saya senang bisa menjadi duta besar kebangkitan Indonesia di abad ke 21 di negara yang pernah menjajah kita”, lanjut Dr Chandra. “Orang Belanda masih banyak yang memiliki persepsi bahwa Indonesia itu masih terbelakang. Setelah mereka melihat bahwa orang kita mampu bahkan bisa berprestasi cemerlang di tingkat dunia termasuk di negara mereka, mereka jadi hormat dengan saudara saudari kita yang 240 jutaan di tanah air”, tambah Dr Chandra. “I am proud of being Indonesian”, kata Dr Chandra.

    Mari kita acungkan jempol buat saudara Prof Dr Yanto Chandra. Semoga akan muncul lebih banyak lagi Yanto Chandra berikutnya dari tanah air. Salam merdeka.

  4. 4
    nurafni anwar Says:

    saya sangat kagum terhadap beliau, tetap mencintai Indonesia walaupun sudah sukses di negeri orang, Amerika. :D
    oh iya, saya mau nanya, saya boleh minta contact person nya Dr. Nelson Tansu gak? Saya mau menghubungi beliau untuk menjadi pembicara di suatu event.
    mohon balasannya yaaa :)

Leave a Reply