Pasang Iklan Disini

Jual Kaos Gaul Linux Ubuntu
Kaos Gaul UBUNTU

CO.CC:Free Domain

jump to navigation

Pilih Lingkungan Anda Untuk Sukses May 16, 2008

Posted by admin in : Article, Sharing , add a comment

Diposting oleh akaruna@ptmorich.com, Penulis asli tidak tahu

Keadaan sekeliling dan lingkungan kita dapat mempengaruhi kita. Keadaan jiwa juga dapat mempengaruhi kita. Keadaan suasana hati dapat pula mempengaruhi kita. Mempengaruhi untuk bersikap dan melakukan sesuatu tindakan.

Pada bulan puasa beberapa waktu lalu, saya diberitahu tentang banyaknya pengemis yang dapat penghasilan 1-2 juta per hari. Ibu-ibu tua, bahkan anak-anak di pinggir jalan tiba-tiba penghasilannya meningkat di bulan Ramadhan dan puncaknya pas lebaran. Karena hal ini pula seringkali mereka khusus datang dari desa ke kota hanya untuk mengemis.

Namun mengapa orang-orang begitu baik hati untuk beramal ? Kenapa mereka beramal sedemikian banyak pada waktu itu ? Semua karena hatinya yang menjadi khusyuk sewaktu menjalankan ibadah di bulan yang suci itu. Mereka begitu bersemangat menjalankan semua ibadah yang bisa dilakukan, termasuk banyak beramal.

(more…)

Terjajah ExxonMobil di Blok Cepu - Kwik Kian Gie May 16, 2008

Posted by admin in : Article, Opini , add a comment

Ditulis oleh Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi - apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusaha an asing.

(more…)

Empat Pilar NLP May 15, 2008

Posted by admin in : Article, NLP , add a comment

Ada artikel bagus yang pernah dimuat dalam Majalah Training Indonesia edisi VI/ Desember 2005, hasil wawancara Dr.Stefanus Isaac Tamsil (NLP Master Trainer) dan Bpk. Syaiful Bachri (Coach CHF) tentang Empat PIlar NLP.

Didalam NLP ada empat pilar yaitu:

  1. Self skill dalam pilar ini dijelaskan tentang keberadaan attitude. Self Skill sendiri terbagi dari sense of self, personal mastery dan personal power.
    Sense of self merupakan keadaan dimana manusia sadar sesadar-sadarnya. Sadar dengan keberadaan dirinya, tentang siapa dirinya, juga tugas yang diembannya sebagai manusia. Personal Mastery adalah kelanjutan dari sense of self. Manusia memiliki penyadaran terhadap setiap langkah yang diambilnya. “Manusia dikatakan memiliki personal mastery kalau dia bisa mengontrol tindakannya dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Nah, kalu sudah begitu maka akan lahirlah yang namanya personal power.
  2. Relational skill maksudnya adalah kemampuan seseorang untuk membangun hubungan baik dengan orang lain. “Nah dalam training NLP, umumnya kita akan dijelaskan berbagai metode dan teknik untuk membangun keterampilan dalam membina hubungan. Ini yang sekarang banyak berkembang”.
  3. Strategic thinking skill kemampuan manusia untuk memprediksi masa depan. Maksudnya merancang dan merencanakan masa depan yang akan dijalaninya di kemudian hari. Hal ini terkait dengan visi misi hidupnya. Mampu membuat perencanaan hidupnya ke depan.
  4. Systemic thinking skill kemampuan manusia untuk membuat action plan dan mengambil keputusan yang bijaksana dan bertanggung jawab saat ini, mengacu pada keadaan di masa depan.

Mengapa uang semakin susah dicari May 15, 2008

Posted by admin in : Article, Opini , add a comment

Ditulis oleh Goenardjoadi Goenawan

Dulu sekitar tahun 1991 ketika menghadiri sebuah acara pembukaan Hero Supermarket saya mendengar pidato Muhamad Saleh Kurnia pendiri Hero mengatakan bahwa dirinya membesarkan Hero, dengan menambah banyak cabang, tujuannya bukan profit.  Paling tidak tujuan prioritas pertama di benaknya bukan itu.  Lalu apa?  Jawabnya: tujuannya adalah untuk menciptakan lapangan kerja.  Dia sungguh ingin supaya paling tidak Karyawan Hero bisa menghidupi keluarganya masing-masing.

Setelah berjalan 17 tahun kemudian saya sudah lupa dengan perkataan Pak MS Kurnia tersebut.  Lagipula apa benar bahwa pemilik sebuah bisnis lebih memikirkan nafkah penghidupan karyawannya?  Apa benar begitu?  Saya masih sangsi.

Lalu setelah berjalan 17 tahun saat ini kondisi ekonomi benar-benar terpuruk. Begitu banyak PHK, pabrik tutup, pengusaha banyak yang memilih pensiun.  Akibatnya, begitu banyak pengangguran, pengurangan karyawan berlaku selama ini.  Kalau dulu menjadi pengangguran adalah momok rasa malu, maka sekarang menjadi pengangguran sudah menjadi profesi wajar.  Setiap keluarga beranak empat, maka yang dua bekerja dan dua lainnya mengantar jemput.  Ini banyak merata terjadi di kota-kota besar.

Mengapa ini bisa terjadi?

(more…)

Bekerja untuk belajar May 7, 2008

Posted by admin in : Article, Mentalitas , add a comment

Barusan saya berbincang dengan teman saya tentang mana yang lebih dulu bekerja apa belajar. Menurut saya kedua-duanya bisa merupakan awal. Paradigma yang biasa di masyarakat adalah kita harus menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Maka tak heran kalau orang tua selalu berusaha untuk menyekolahkan anaknya sampai jenjang tertinggi, misalnya S1 atau S2 atau minimal SMA.

Dengan menuntut ilmu di perguruan tinggi, diharapkan kita akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Tapi kenyataannya kita dapat lihat banyak pengangguran, walaupun sudah bergelar sarjana. Sedangkan beberapa orang walaupun tidak tamat SD bisa sukses dalam bisnisnya. Saya bisa ambil contoh pak Bob Sadino, pak Andri Wongso dll. Kenapa bisa demikian?

Menurut saya, semakin tinggi kita menempuh ilmu maka semakin tinggi standar pekerjaan yang kita inginkan. Tentunya
lulusan S2 tidak mau bekerja sebagai kuli atau bawahan kan. Hal inilah yang membelenggu mereka sehingga mereka selalu mengharapkan pekerjaan yang sesuai dengan titel mereka. Tapi tentunya tidak banyak lowongan pekerjaan untuk level atas. Apa yang lebih dibutuhkan oleh perusahaan? Tentunya pengalaman akan berjalan lurus dengan keterampilan anda. Dan kebanyakan pekerja adalah fresh graduate, yang belum cukup pengalaman.

Jadi apa kuncinya disini? Iya pengalaman, dalam hal ini saya dapatkan katakan bahwa anda bekerja untuk belajar. Bekerja untuk mendapatkan pengalaman dan belajar untuk memecahkan masalah.

Dan yang menjadi kebiasaan bagi karyawan atau pekerja adalah mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka berusaha lebih keras untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Sehingga mereka lupa bahwa mereka perlu waktu untuk belajar, mengembangkan keterampilan mereka, belajar hal-hal yang baru, dan tidak terjebak dalam rutinitas kerja.

Banyak orang yang terjebak dalam rutinitas kerja menjadi stress. Karena ia tidak dapat meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri maupun untuk keluarga.

Berkenaan dengan hal ini, maka saya menyarankan untuk memulai sesuatu dari hal yang kecil kemudian ke hal yang besar. Usahakan anda selalu dalam proses pembelajaran. Luangkan waktu anda untuk mempelajari sesuatu yang baru. Tidak harus sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan anda saat ini. Karena apa yang anda pelajari saat ini mungkin akan menjadi masa depan anda.

Semoga bermanfaat

Kisah tentang dua pemancing May 7, 2008

Posted by admin in : Article, Pelajaran hidup , add a comment

Dikisahkan, dua orang pergi memancing. Satu orang adalah pemancing yang berpengalaman dan satunya tidak. Ketika pemancing berpengalaman mendapatkan ikan besar, ia selalu memasukan ke dalam kotak es. Sedangkan pemancing tak berpengalaman jika mendapatkan ikan besar pasti dilepasnya.

Awalnya pemancing yang berpengalaman menghiraukan hal yang berulang kali dilakukan oleh pemancing tak berpengalaman. Akhirnya karena penasaran, ia menanyakan : “Kenapa anda selalu membuang kembali jika mendapatkan ikan yang besar”.

Si pemancing tak berpengalaman menjawab : “Karena saya hanya memiliki panci memasak yang kecil, jadi ikan yang besar tidak cukup untuk dimasukkan ke dalam panci kecil tersebut. Itulah sebabnya ia selalu membuang ikan yang besar karena tidak bisa memasaknya”.

Seringkali seperti pemancing tak berpengalaman, kita sering membuang rencana, impian, pekerjaan ataupun kesempatan besar yang diberikan oleh Tuhan. Keyakinan kita terlalu kecil untuk meyakini hal tersebut.

Seperti halnya pemancing tadi, ini bukan masalah kita membutuhkan panci memasak yang lebih besar untuk memasak ikan yang besar, tetapi bagaimana cara kita untuk meningkatkan keyakinan kita bahwa kita bisa memasak ikan yang besar itu dengan panci yang kecil.

Apapun itu sebuah masalah atau kemungkinan, Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang tidak bisa kita tangani. Ini berarti kita dapat dengan percaya diri untuk menjalani hidup ini dengan percaya diri.